Tag

, , , , ,

Changsoo Kyuyoung

Cast: Sooyoung, Changmin, Kyuhyun

Rating: PG-13

Genre: Romance, Fluff

Length: Oneshot

“A short story about first love and the last one…”

“Kyuhyun! Changmin!” Suara Sooyoung terdengar dari lantai bawah rumah bertingkat dua tersebut. para pemilik nama yang dipanggil sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran mereka. Dengan gusar, Sooyoung naik ke lantai atas, memeriksa kamar anak laki-lakinya namun tidak menemukan anak itu di tempat tidur mungilnya. Sooyoung tahu anaknya pasti sudah mengungsi ke kamar tidurnya, berkumpul dengan orang yang secara genetik menurunkan kebiasaannya yang sangat sulit dibangunkan ketika pagi hari.

BRAK!

Seorang namja berumur tidak lebih dari 30 tahun terbangun mendengar suara pintu yang dibuka dengan tidak sabar. Ia membuka matanya dan melihat anak laki-lakinya yang sedang memejamkan mata. Mata anak itu bergerak-gerak menandakan ia tidak tertidur, hanya menolak untuk bangun pagi. Changmin memejamkan kembali matanya, tersenyum melihat bagaimana anak berumur hampir 4 tahun itu menirukan kebiasaannya dengan baik. Tiba- tiba selimut terbuka dan kedua orang itu masih memejamkan mata. Sooyoung tahu pasti mereka tidak benar-benar tidur.

“Jika tidak ada yang bangun, maka tidak ada yang dapat sarapan!”

Dua orang tersebut segera bangkit, dan Sooyoung hanya terseyum melihat nampyeonnya yang bergegas menggendong anak mereka ke kamar mandi. Cara itu selalu berhasil.

*

“Kita mau kemana?”

“Kita akan jalan-jalan jagiya, kita akan bertemu seseorang yang spesial” Sooyoung menjawab sambil menyuapkan makanan ke mulut anaknya yang dari tadi terus bertanya.

“Siapa Eomma?” tanyanya lagi.

“Seseorang yang sangat spesial dan berarti dalam hidup Eomma”

Anak itu berhenti bertanya, karena ia tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan Eommanya. Sementara suaminya segera berdiri dan beranjak dari ruang makan mereka.

“Aku sudah selesai. Kutunggu di mobil”

Sooyoung memandang suaminya yang berlalu, ia bisa melihat sedikit perubahan wajahnya. Entah itu kekecewaan, kemarahan atau kecemburuan.

Ia tidak mau semua itu, sungguh.

10 tahun yang lalu…

Sooyoung baru saja menjadi mahasiswi  di sebuah universitas saat umurnya baru menginjak 19 tahun. Sooyoung adalah tipikal yeoja kebanyakan, ia dengan tekun mengikuti perkuliahan dan berteman dengan beberapa mahasiswa lainnya. Salah satunya adalah Shim Changmin, walau berbeda jurusan, mereka bertemu saat kuliah Bahasa Inggris. Sooyoung terkesan dengan Changmin yang sangat menguasai bahasa asing tersebut, sementara Changmin sangat menyukai jika Sooyoung mengajarinya bahasa Jepang. Sooyoung memang pernah tinggal di Jepang saat masih di sekolah dasar.

Shim Changmin, ia adalah namja  yang pandai bergaul. Ia memiliki banyak sekali teman, terutama yeoja. Hal yang wajar, karena Changmin memiliki wajah yang cukup tampan dan tubuh yang atletis. Sooyoung senang berteman dengan namja itu, karena ia adalah tipe yang tidak terlalu pandai bergaul dengan orang di sekitarnya, tapi sekarang teman-teman Changmin juga mengenalnya. Suatu hari ia menyadari alangkah berbedanya ia dengan yeoja-yeoja yang dekat dengan Changmin. Mereka semua tampak menawan  dan feminim dengan busana yang selalu mengikuti mode terbaru. Sooyoung adalah gadis yang feminim, tapi ia lebih suka memakai pakaian yang kasual dan sederhana. Changmin tidak pernah mempermasalahkan hal itu, malah ia berkata pada Sooyoung agar tidak perlu berpakaian seperti yeoja lainnya. Ia menyukai Sooyoung yang apa adanya.

Sooyoung menikmati tahun pertamanya dengan gembira. Persahabatan dan hubungan sosialnya dengan mahasiswa lainnya cukup baik dan ia tidak bisa meminta lebih dari itu. Tahun kedua adalah tahun yang lebih menyenangkan lagi, karena Sooyoung bertemu dengan seorang namja yang nantinya akan memberikan banyak pelajaran berharga baginya. Cinta, itu termasuk di dalamnya.

Cho Kyuhyun, namja dengan senyum dan perilaku yang sama memikatnya. Rambutnya yang ikal dan tebal serta matanya yang cokelat dan teduh dengan mudah menarik perhatian orang sekelilingnya. Ia muncul tiba-tiba di suatu siang, saat Sooyoung sedang mencoba melepaskan bajunya yang tersangkut di maket contoh bangunan yang sedang dikerjakan Changmin di bawah pohon di belakang kelas mereka. Changmin bukannya membantu melepas malah berkata dengan kesal sambil menyalahkan Sooyoung.

“Kenapa kau pakai baju seperti itu? sudah kubilangkan kan tidak usah berpakaian yang aneh-aneh!”

Sooyoung hanya terseyum kecut.

Kyuhyun yang melihat mereka mendekat, kemudian dengan segera membantu Sooyoung. Itu adalah pertemuan pertama mereka, bisa dikatakan Kyuhyun mengalami apa yang dinamakan Love at the first sight, karena saat menatap mata Sooyoung ia tak bisa melupakannya. Ia selalu mencari cara agar bisa bertemu dengan yeoja itu setiap hari.

Bagaimana dengan Sooyoung? tidak jauh berbeda dengan Kyuhyun, ia pun tak bisa melupakan kejadian tersebut. Namja itu tak pernah sedikit pun meninggalkan pikirannya. Ia baru sekali ini merasakan perasaan yang seperti itu. Cukup memalukan memang jika ia harus mengakui kalau itu adalah pertama kalinya ia benar-benar jatuh cinta, First love, ketika ia sudah berusia 20 tahun. Tapi siapa yang bisa menduga? Jadi, ketika Kyuhyun menyatakan perasaannya, Sooyoung tidak bisa memberikan jawaban lain selain “Ya”, diikuti dengan rona kemerahan di pipinya.

Kyuhyun selalu memberikan perhatian dan cintanya untuk Sooyoung, ia tak pernah bosan untuk memberikan berbagai kejutan untuk yeoja itu. Sooyoung, menjadi yeoja yang tidak terlalu akrab dengan cinta sebelumnya, selalu belajar untuk memahami bagaimana Kyuhyun memberikan perhatian dan kasih sayang untuknya. Kyuhyun mencintai Sooyoung dan Sooyoung mencintai Kyuhyun.

Namun terkadang manusia berpikir bahwa Tuhan tidak adil pada mereka, tanpa mereka menyadari bahwa apa yang ditakdirkan adalah yang terbaik. Sooyoungpun adalah salah seorang yang berpikir demikian, saat Tuhan menakdirkannya berpisah dengan Kyuhyun. Tidak seminggu, sebulan atau setahun. Tapi selamanya.

“Sooyoungie, mianhe tidak memberitahukan hal ini padamu, Kyuhyun yang melarangnya” Nyonya Cho, Ibu Kyuhyun memberikan penjelasan sambil terus mengusap airmatanya yang tidak berhenti mengalir.

Kyuhyun, namja itu sudah menderita kelainan jantung sejak kecil. Ia tahu penyakitnya sangat sulit disembuhkan, meski orangtuanya telah mencoba berbagai cara. Kyuhyun tidak perduli lagi, ia sudah lelah dengan semua pengobatan yang dilakukannya. Ia menjalani hidup hanya dengan mengharapkan kemurahan hati dari Tuhan untuknya. Sampai ia bertemu Sooyoung. Sooyoung adalah alasan bagi Kyuhyun untuk tetap bertahan. Semangatnya untuk sembuh dari penyakitnya kembali muncul, ia berjuang sekuat tenaga. Ia memutuskan untuk melakukan operasi, walaupun dengan kemungkinan keberhasilan yang kecil. Ia tidak bisa bertahan.

Sooyoung merasa ruangan rumah sakit itu runtuh dan menghimpit badannya, menghancurkan semua sendi tubuhnya. Ia terkulai lemah di lantai sementara Kyuhyun sudah terlelap dalam tidur panjangnya. Satu-satunya yang bisa Kyuhyun tinggalkan untuknya saat itu adalah sebuah hiasan dari kaca berbentuk kubus dengan sebentuk hati berwarna merah di dalamnya.

“Kyuhyun membuat ini dengan tangannya sendiri, ia berkata kalau ini adalah isi hatinya, simpanlah untukmu” ujar Nyonya Cho pada Sooyoung. Sooyoung memeluk erat benda tersebut.

Hari-hari yang dilalui Sooyoung berikutnya sangat berat. Ia kehilangan semua semangatnya. Ia tidak dapat mengingat lagi dengan jelas, apa yang akan dilakukannya, ia tidak perduli dengan keadaan di sekitarnya. Semua orang yang dekat dengannya sudah berusaha menghiburnya, namun Sooyoung masih belum bisa keluar dari kesedihannya. Salah satu orang itu adalah Shim Changmin.

Changmin, apa saja yang ia lakukan selama ini? Apakah ia menghilang dari kehidupan Sooyoung saat Kyuhyun muncul? Tidak. Ia selalu ada. Saat Sooyoung gembira karena pertemuannya dengan Kyuhyun. Saat Sooyoung jatuh cinta. Saat Sooyoung baru saja mulai berpacaran dengan Kyuhyun. Saat Sooyoung merayakan bulan-bulan pertama hubungan mereka. Saat Kyuhyun menghilang dari kampus. Saat Sooyoung mengetahui semuanya. Saat Kyuhyun pergi. Saat Sooyoung bersedih. Saat Sooyoung merasa hancur. Saat ini, Ia selalu ada di sisi Sooyoung. Hanya saja yeoja itu tidak menyadarinya.

Dengan segala kemampuannya, ia terus menghibur dan memberikan semangat untuk Sooyoung, hingga akhirnya yeoja itu kembali ke kehidupannya. Walaupun ia tidak bersemangat dan ceria seperti dulu, paling tidak Changmin berusaha agar Sooyoung menyelesaikan pendidikannya. Dua tahun berlalu dengan susah payah untuknya dan Sooyoung, akhirnya mereka berhasil lulus bersama. Changmin memeluk Sooyoung yang nampak cantik dengan pakaian kelulusan mereka.

“Youngie, kita berhasil” bisiknya.

Sooyoung membalasnya dengan senyuman simpul.

Changmin telah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan. Sebagai arsitek yang cerdas, hal itu tidaklah sulit baginya. Sementara Sooyoung, ia kembali seperti dulu, tidak punya semangat dan hanya menghabiskan waktu mengurung diri di kamarnya. Changmin masih sering mengunjunginya, mengajaknya mengobrol di sela waktu kerjanya yang padat, berusaha mencari kesibukan untuk Sooyoung. Ia menawarkan berbagai lowongan pekerjaan untuk Soooung, tapi yeoja itu selalu menolak.

Sooyoung, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia merasa kosong dan sepi, ia sudah terbiasa seperti itu. ia ingin sendiri saja, namun namja itu, Shim Changmin selalu muncul di hadapannya. Ia ingin Changmin tidak mengunjunginya lagi, ia tidak mau mengganggu kehidupan namja itu.

“Changmin-ah, apa kau tidak lelah terus seperti ini?”

Pertanyaan Sooyoung mengagetkan Changmin. Namun ia tersenyum.

“Tidak, tak akan pernah”

Changmin memang tidak akan pernah lelah jika harus menemui Sooyoung.Tapi sebagai seorang pekerja dengan tanggung jawabnya yang cukup besar, ia harus menyerah pada waktu. Semakin hari, waktu yang tersedia untuknya semakin sempit dan ia tak lagi bisa mengunjungi Sooyoung seperti dulu.

Sooyoung duduk di atas tempat tidurnya. Hujan sangat deras di luar membuat jendela kamarnya berkabut. Sooyoung menatap ke luar sambil bertanya dalam hati, apa yang sedang dilakukan Changmin saat ini. Sudah lebih dari sebulan sejak terakhir kali ia melihat namja itu, sebenarnya ia merindukan saat-saat melihat namja itu datang karena Changmin dengan wajahnya yang cerah dan matanya yang bersinar, akan selalu tersenyum menyambutnya.

Sooyoung mengambil pemberian Kyuhyun yang ia letakkan di meja dan memandanginya sesaat. Ia teringat Kyuhyun, namja itu tidak pernah ia lupakan. Ia masih sedih jika mengingatnya, namun rasa sedih itu sudah tidak terlalu menyiksanya seperti dulu. Waktu adalah penyembuh terbaik.

Suara petir terdengar sangat nyaring, membuat Sooyoung kaget dan spontan melemparkan benda yang ada di tangannya untuk menutup telinganya. Kacanya pecah berkeping-keping dan benda berbentuk hati yang ada di tengahnya terpental beberapa meter di sudut ruangan. Sooyoung memungutnya, ia melihat ada sebuah engsel di salah satu sisinya. Ia membukanya, sebuah kertas terlipat berada di dalamnya. Penasaran, ia membuka kertas tersebut dan mendapati tulisan tangan Kyuhyun. Jadi benar, benda itu adalah ‘isi hatinya’.

Sooyoung, mianhe…aku tahu saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak bisa melihat dan menemanimu lagi.. jeongmal mianhe…

Mata Sooyoung terasa panas karena perasaan haru yang datang tiba-tiba. Ia sangat merindukan berbicara dengan Kyuhyun, dan ia senang sekali menemukan surat itu.

Saranghe Sooyoungie, tapi aku tidak akan membicarakan hal itu, aku tidak ingin kau sedih. Kau pasti sudah tahu dengan jelas seberapa besar aku mencintaimu, tetapi aku tidak tahu pasti apa kau menyadari ada seseorang yang juga mencintaimu sama besar sepertiku. Atau mungkin lebih.

Sooyoung terkesiap, ia sama sekali tidak mengerti kemana arah dan maksud Kyuhyun.

Namja itu, jika ada satu momen dalam hidupnya yang bisa di ulang, maka ia akan memilih hari dimana kita bertemu. Ia akan melarangmu memakai pakaian itu karena ia tahu kau akan menarik perhatian namja lain. Tapi alangkah beruntungnya aku pada saat itu, dan benar, kau langsung menarik perhatianku.

Aku adalah orang yang egois, Soo. Aku tahu jika aku mungkin tidak bisa terus bersama denganmu dan pada akhirnya akan membuatmu sedih. Aku juga tahu bahwa namja itu mencintaimu, mungkin jauh lebih dulu daripada aku, namun dia dengan kebesaran hatinya merelakanmu  untukku. Ia tahu pasti kalau kau juga mencintaiku, jadi ia mengatakan padaku agar menjagamu dan tidak pernah meninggalkanmu. Tapi aku, mengetahui semua ketidakmampuanku untuk melakukannya, menerima tanggung jawab itu. aku benar-benar egois, ya kan?

Butiran air mata mengalir perlahan di pipi Sooyoung.

Kau masih belum mengetahui namja itu? Jika belum, aku berharap semua belum terlambat.

Sooyoung baru saja menyadarinya.

Namja itu…

Dia…

SHIM CHANGMIN.

Sooyoung terisak, ia merasa sangat bersalah pada Changmin. Namja itu selalu ada di sisinya, menemaninya selama ini. Tentu Changmin tidak pernah bermaksud agar Sooyoung melupakan Kyuhyun, ia hanya menjamin kalau Sooyoung tidak akan terus tenggelam dalam kesedihan. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada hidupnya sekarang jika Changmin tidak ada di saat ia paling membutuhkan. Sooyoung membutuhkan namja itu.

Sooyoung bergegas menyambar mantelnya dan berlari menembus hujan. Ia tidak menghiraukan derasnya hujan dan terus berlari sampai ia menjumpai taksi dan segera masuk ke dalamnya. Ia harus bertemu dengan Changmin. Segera.

Sebagian isi surat Kyuhyun masih terlintas di benak Sooyoung, seperti suara yang terus terdengar di telinganya.

Namja itu masih bersamamu kan? Apa ia sudah mengatakan perasaannya padamu? Belum? Apa kau belum bisa melupakanku hingga namja itu masih belum berani mengatakannya?

Sooyoung menggigil, ia sekarang berdiri di depan kediaman keluarga Shim dan dengan tidak sabar terus memencet bel rumah tersebut. Pintu terbuka dan Nyonya Shim tampak terkejut melihat Sooyoung yang muncul dengan tiba-tiba, basah kuyup dan kedinginan. Sudah lebih dari dua tahun sejak terakhir kali kunjungan Sooyoung kesana, dan Nyonya Shim tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat Sooyoung. Namun Sooyoung tidak melihat Changmin, ibunya mengatakan kalau Changmin masih berada di kantornya, ia belum pulang. Belum selesai penjelasan dari yeoja paruh baya itu, Sooyoung sudah buru-buru pergi dan mengucapkan terimakasih.

Sooyoung kembali berlari, tidak peduli apapun yang terjadi ia harus bertemu namja itu malam ini.

Changmin pasti masih menunggu saat yang tepat, Ah namja itu, ia pasti sangat mencintaimu sampai ia mau menunggu selama ini. Aku tidak bisa seperti dia, Soo. Sungguh, aku tak bisa mencintai tanpa memillikimu bahkan meskipun aku tahu tidak bisa terus menjagamu.

“Changmin, kau sudah memutuskan pindah dari sini?” Changmin termenung mendengar pertanyaan dari teman sekantornya.

“Aku tidak tahu. Aku masih mencari alasan untuk tinggal di kota ini”

“Ah sayang sekali kalau kau tidak pindah, perusahaan yang mengontrakmu itu sudah terkenal dan sangat menjanjikan”

Changmin hanya tersenyum, berpikir bahwa semua itu tidak terlalu penting untuknya.

BRAK!

Pintu ruangan kantor itu terbuka, seorang yeoja dengan napas yang tersengal-sengal dan basah kuyup masuk dan seketika membuat orang yang ada di sana terkejut.

Sebenarnya sangat mudah untuk mengetahui perasaannya padamu, Soo. Mendekatlah dan tatap matanya, kau akan melihat dan merasakan..

“Sooyoung?”

Mata Changmin melebar melihat kemunculan yang tak disangka dari yeoja itu. Ia terkejut dan heran, namun disaat bersamaan ia juga merasa senang.

Changmin lebih terkejut lagi saat yeoja itu berlari dan langsung menghambur ke pelukannya.

“Changmin-ah” Sooyoung mendongak untuk melihat wajah Changmin yang masih diliputi kebingungan, tapi dari matanya yang dalam dan menenangkan itu, Sooyoung bisa melihat dan merasakan,

Betapa besar cintanya untukmu, Sooyoungie.

“Saranghe..”

Changmin berdiri mematung, ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan perasaannya saat itu. sebuah senyum bahagia dan pelukan hangat untuk Sooyoung, hanya itu yang bisa ia berikan.

“Aku sudah mendapatkan alasan untuk tetap tinggal di sini” batin Changmin.

***
“Eomma, Kyuhyun samcheon itu siapa? Kenapa namanya sama denganku?”

Sooyoung tersenyum sambil merapikan pakaian Kyuhyun, cuaca masih cukup dingin karena musim salju baru saja selesai.  Mereka bertiga mengunjungi makam Kyuhyun bersamaan dengan Nyonya Cho dan keluarganya yang lain. Ia sekarang duduk di sebuah bangku, sementara Changmin pergi sebentar mengunjugi rumah atasannya yang berada di sekitar tempat itu.

“Appa bilang Eomma sayang dengannya” ucapnya lagi polos.

“Appa bilang seperti itu?” Sooyoung terkejut, ia tidak menyangka Changmin akan mengatakan hal itu pada Kyuhyun, ia terlalu muda untuk mengerti. Sooyoung khawatir jika Changmin marah atau cemburu pada Kyuhyun. Panik terlihat jelas di matanya.

“Appa bilang apa lagi?” tanyanya cemas.

“Appa bilang juga sayang Kyuhyun samcheon dan Eomma”

“Ap-a?”

Sooyoung terhenyak. Perasaan hangat menjalar di hatinya dan terus naik ke wajahnya, perasaan itu berubah menjadi air yang menggenang di pelupuk matanya. Changmin, sebenarnya berapa besar cintamu padaku? Di dunia ini, berapa banyak namja yang mau menamakan anaknya dengan nama orang yang pernah dicintai oleh istrinya? Apa ia tidak takut yeoja yang dicintainya tidak bisa melupakan namja itu? apa ia tidak marah? Cemburu?

Kyuhyun, turun dari pangkuannya dan berlari ke arah Nyonya Cho dan Ah ra, kakak perempuan Kyuhyun, yang memanggilnya untuk membelikan makanan kecil.

“Sooyoungie”

Sooyoung menyeka air matanya sebelum menoleh dan terseyum pada Changmin. Ia menggeser badannya, memberikan ruang untuk Changmin untuk duduk di sampingnya.

“Rasanya rumah Tuan Yang tidak terlalu jauh dari sini, tapi kenapa waktu aku berjalan kaki ke sana rasanya jauh sekali?” ujar Changmin. Napasnya terdengar jelas karena ia kelelahan.

“Itu karena kau sudah jarang berolahraga. Terlalu banyak tidur” ujar Sooyoung.

Changmin tertawa dan merangkul Sooyoung yang sekarang menyandarkan kepala di bahunya, mereka memandangi Kyuhyun yang tampak senang, bermain dengan keluarga Cho.

“Changmin-ah”

“Mmm?”

“Kau marah padaku?”

Changmin spontan menoleh, tidak hanya karena ia tidak mengerti dengan pertanyaan Sooyoung, tetapi juga karena ia menangkap nada suara Sooyoung yang lirih.

“Marah?”

Sooyoung mengangguk. “Tadi pagi kau.. terlihat tidak senang”

“Oh” Changmin teringat, ia memang merasa sedikit kesal dan cemburu dengan kata-kata Sooyoung pada Kyuhyun tadi pagi. Sekarang ia sudah tidak mempermasalahkannya, karena itu memang benar. Kyuhyun memang orang yang berharga bagi Sooyoung. Tapi, sedikit cemburu adalah normal bukan?

“Mianhe, Changmin. Tapi yang kukatakan tadi pagi adalah benar. Kyuhyun memang sangat spesial dan berharga untukku”

Changmin terdiam, tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat, berusaha menahan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di hatinya. Rasanya lebih sakit mendengarnya langsung dari mulut Sooyoung.

“Aku bersyukur Tuhan mengirimkannya untukku. Aku sangat bersyukur ia mencintaiku dan mengajariku mencintai seseorang dengan tulus. Aku… bersyukur setiap hari untuk itu”

Changmin mencengkeram lututnya berusaha menyembunyikan perasaan sakit di hatinya. Ia terkejut saat Sooyoung meraih tangan kanannya dan menggenggamnya.

“Karena jika aku tidak bertemu dengan Kyuhyun, aku mungkin akan kehilangan sesuatu yang paling berharga di hidupku saat ini, yaitu.. kau Shim Changmin”

Sooyoung menatap Changmin yang tertegun setelah mendengar kata-kata darinya.

“Aku bersyukur setiap saat kepada Tuhan karena telah memberikanku kesempatan untuk bersamamu. Aku bersyukur setiap pagi aku membuka mata dan melihatmu di sampingku, aku bersyukur masih bisa menggenggam tanganmu, aku bersyukur bisa melihat wajahmu, senyummu dan matamu yang selalu menatapku dengan pandangan itu…”

Changmin mengalihkan pandangan dari istrinya sementara Sooyoung tersenyum memandang wajah suaminya yang bersemu merah.

“Aku bersyukur Tuhan mengijinkanku merasakan betapa besar cintamu untukku.. ”

Changmin tersenyum, ia menundukkan kepalanya sejenak sebelum memeluk Sooyoung yang pipinya sekarang basah.

“Jangan menangis, kumohon.. aku tidak bisa melihatnya” Changmin mengusap pipi Sooyoung perlahan dengan kedua ibu jarinya. Ia lalu mencium kening yeoja itu.

“Saranghe Sooyoungie..”

Sooyoung tersenyum,

“Aku tahu, nado sarangheyo” dan mendaratkan kecupan di pipi namja itu. “Jeongmal sarangheyo..”

“Berhenti mengatakan sarangheyo”

Sooyoung menatap Changmin dengan heran, alisnya berkerut,  “Wae?”

“Jadi aku bisa melakukan ini..” Changmin memegang wajah Sooyoung dengan kedua tangannya, ingin mencium bibir yeoja itu, ketika tiba-tiba

“Umma! Appa!”

Kedua orang tadi segera menoleh dan mendapati Kyuhyun, dengan wajah cemberut berdiri di depan mereka dengan tangan menyilang di dada, menandakan ia sedang kesal.

“Jagiya..” Sooyoung segera mengangkat Kyuhyun ke pangkuannya dan mencium pipi namja kecil itu. Changmin juga ikut mencium pipi Kyuhyun yang tampak tidak senang.

“Aissh umma appa, kisseu-kisseunya nanti saja di rumah. Ayo kita pulang.. lihat kita sudah ditinggal halmeoni” ujarnya sambil menunjuk ke arah keluarga Cho yang sudah berjalan menuju mobil mereka yang di parkir. Sooyoung tertawa melihat ekspresi wajah Kyuhyun, mulutnya yang mungil tampak lucu ketika cemberut.

Changmin juga tertawa mendengar kata-kata Kyuhyun, “Ah benar ayo kita pulang, kisseu-kisseu nya kita lanjutkan di rumah saja, ya kan jagiya?” ujar Changmin sambil berdiri dan mengedipkan sebelah matanya pada Sooyoung.

“Yah!” Sooyoung berdiri dan memukul lengan namja itu. “Jangan bicara yang tidak-tidak”

“Memangnya aku bicara apa?” tanya Changmin berlagak tidak tau apa-apa. Sooyoung hanya mendengus kesal, berusaha menyembunyikan pipinya yang sekarang memerah.

“Ayo Kyuhyun”

Changmin menggandeng tangan Kyuhyun kecil. Sooyoung melakukan hal yang sama. Mereka lalu berjalan bergandengan ke arah mobil, Kyuhyun berjalan dengan riang sambil sesekali melompat gembira.

“Appa, Bibi Ahra punya adik kecil yang cantik” ujar Kyuhyun.

“Oh ya? Kau mau punya juga?”

“Changmin!” Sooyoung berkata setengah berbisik pada nampyeonnya itu.

“Eh hmm” Kyuhyun mengangguk.

“Kalau begitu minta dengan Eomma, kalau ia setuju, kami akan memberikan adik perempuan yang cantik untukmu” ujar Changmin.

“Yah!” Sooyoung tampak kesal karena Changmin terus menggodanya.

“Eomma, aku juga mau adik perempuan” Kyuhyun berkata pada Sooyoung dengan lugu, membuatnya kebingungan untuk menjawab.

“Iya jagiya..” akhirnya Sooyoung menyerah, diikuti tawa oleh Changmin.

“Asyiiikkk!” Kyuhyun melompat-lompat gembira.

Sooyoung dan Changmin tertawa melihat tingkah laku Kyuhyun, namja kecil itu benar-benar menggemaskan. Changmin menggendongnya setelah ia mulai sedikit lelah berjalan, dengan begitu ia dapat menggenggam tangan Sooyoung. Sooyoung menggenggam tangan Changmin dengan erat, ia bisa merasakan kehangatan dari tangannya. Ia tidak akan pernah melepaskan genggaman tangan itu. Tidak akan pernah sekalipun dalam hidupnya. Changmin menatap Sooyoung dengan matanya yang bersinar, dan Sooyoung dapat melihatnya dengan jelas

How great is HIS LOVE…

Gomawo Kyuhyun.

Gomawo Changmin.

You became a bright light to me, who was exhausted by the world
Even if winter comes at the end of this narrow road we walk together
If you would hold my hand, to me, this rough world will be like spring days
How great is your love
(How Great Is Your Love, Choi Sooyoung)

END

For Sages and Knights, and for my beloved reader and dongsaeng, lathatytula, MyNameisEka, Cornissone, Sooyounglover, Icha, Sashahaha, minnie, noviantisitorus, mia and you guys all who have ever read (even silent readers counted) and give your precious time for a beautiful comment on my poor blog, sorry i could’t named all of you, but really.. i appreciated it. Thank you for your support! I’ll try my best!! Fighting!!!

A/N: Mian ya kalau rada aneh hehehe.. author payah kalau nulis fluffy seperti ini.. tapi biar ancur begitu bikinan sendiri lho.. khusus buat para reader tersayang, jadi jangan lupa tinggalkan jejak ama komennya ya ^^

Iklan