Tag

, , , , , , ,

Chapter 5

Previous Chap 4

Sooyoung duduk di ruang tamu rumah besar tersebut. Lehernya terasa kaku karena tegang, berbicara sedikit saja rasanya susah sekali. Dia dikelilingi empat orang namja, tiga diantaranya memperhatikan dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil mendengarkan penjelasan dari namja lainnya yang bernama Junsu.

 

“Jadi kau ingin dia tinggal disini?” Yoochun bertanya pada Junsu, tapi tatapan matanya belum lepas dari Sooyoung.

 

“Ya, dan seperti kukatakan tadi, kau sudah berjanji untuk memenuhi satu permintaanku kalau aku menemani kau melakukan kejahatan tadi pagi kan?”

 

Sooyoung terkejut mendengan perkataan Junsu. Kejahatan? Aish jadi benar selama di Seoul ia melakukan hal-hal buruk. Jangan-jangan ia nanti akan menculik, lalu menjual dirinya pada orang jahat, atau lebih buruk membunuh lalu menjual organ tubuhnya kerumah sakit…

 

“Hey, kau jangan berpikir yang macam-macam!” hardik Yoochun pada Sooyoung yang nampak ketakutan. Membuat yeoja itu tersentak dan tersenyum kecut.

 

“Aku tidak bisa memberi keputusan. Kalian berdua bagaimana?”

 

“Aku tidak setuju! Disini sudah terlalu banyak penghuninya! Kalian saja sudah cukup membuat rumah berantakan, ditambah satu orang lagi! Tidak mau!” Namja yang menabrak Sooyoung tadi, Changmin, menjawab ketus dengan tampang menyeramkan.

 

Sejenak Sooyoung teringat seperti pernah melihat namja itu, entah dimana. Bukan hanya dia, tapi tiga orang namja didepannya memiliki wajah yang tidak asing. Yoochun, seperti kata Junsu, adalah namja yang ditabraknya kemarin, tapi dua namja ini… siapa?

 

“Yah Changmin!memangnya kau pernah membersihkan rumah ini! Setahuku kau hanya perduli dengan kamarmu sendiri!” ujar Junsu membela.

 

“Tidak sih, tapi aku tidak suka terlalu banyak orang disini!”

 

“Kalau menurutku, kita tunggu Jaejoong pulang saja dulu”, seorang namja lain yang tampak tenang dan berwibawa angkat bicara, menengahi pertengkaran mereka.

 

“Aku tidak keberatan kalau dia tinggal disini, lagipula kasian dia baru saja mendapat musibah, kalau Junsu tidak berbohong—

 

“Tidak itu benar, aku bersumpah” potong Junsu.”Iya kan Soonam?”

 

Sooyoung mengangguk. Ia melihat namja yang sedang berbicara itu, sekali lagi rasanya ia tidak asing sekali dengan wajah di hadapannya ini. Ia gagah dan memiliki kharisma tertentu yang bisa membuat orang disekitarnya patuh padanya.

 

“Aku tidak setuju!” Changmin menyela. Sooyoung langsung cemberut mendengarnya, sepertinya hanya namja satu itu yang tidak kenal sopan santun.

 

“Keputusan belum diambil sampai semua yang tinggal disini lengkap. Tapi kalau menurutku tidak apa-apa kalau ia tinggal sementara sampai Jaejoong pulang”

 

“Yunho-ah kau baik sekali..” Junsu tersenyum senang, ia lalu merangkul Sooyoung.

 

“Kalau begitu sudah diputuskan. Kita menunggu pendapat dari Jaejoong!” ujar Yoochun.

 

“Tapi kau kan sudah berjanji memenuhi satu permintaanku. Kau harus menyetujui dia tinggal disini!” Junsu berkata pada Yoochun.

 

“Iya iya baiklah! Aku menyetujui ia tinggal disini! Tapi kalau Jaejoong tidak mau apa boleh buat! Sudahlah aku mau pakai baju dulu” Yoochun yang masih memakai handuk bangkit dari sofa.

 

“Aku yakin Jaejoong pasti tidak akan mengijinkan dia tinggal disini” ujar Changmin ketus sambil meninggalkan tempat itu. hanya Yunho yang masih duduk disana. ia tersenyum ramah pada Sooyoung, membuat yeoja itu sedikit malu. Tapi ia segera sadar kalau ia harus berakting seperti namja, Sooyoung lalu menegakkan punggungnya dan memasang tampang cool.

 

“Hey Changmin, Yoochun mau kemana? Pembicaraannya belum selesai!” teriak Junsu. Ia menghalangi jalan Changmin.

 

“Apa lagi sih?” Changmin mendengus kesal.”Minggir!

 

Sooyoung tersentak mendengar ucapan Changmin. Ia seperti pernah mendengar suara seseorang yang mirip seperti suara Changmin.

 

Kau masih menghalangi jalanku! Minggir!” ujar Changmin pada Junsu.

 

Sooyoung kaget dan spontan berdiri membuat Yunho heran. Sooyoung akhirnya ingat dengan Changmin, namja itu adalah namja yang dijumpainya saat pertama melangkahkan kaki di kampus. Namja sombong dan kurang ajar itu.

 

‘Aishh.. kenapa aku bisa bertemu dengan orang  menyebalkan ini lagi, kalau harus serumah dengannya aku bisa mati kesal, dia pasti akan memperlakukanku dengan buruk’ batin Sooyoung cemas.’Tapi.. tunggu! Kalau aku tinggal disini berarti aku bisa memberinya pelajaran.. hehehe.. aku bisa mengerjainya nanti!’ Sooyoung tersenyum sendiri.

 

“Choi Soonam? Kau kenapa?” Yunho yang memperhatikan kelakuan aneh Sooyoung bertanya dengan heran.

 

“Oh, tidak, tidak ada apa-apa” Sooyoung kembali duduk sambil menggaruk-garuk kepalanya. Namja itu selalu membuatnya jadi salah tingkah.

 

“Junsu cepat katakan apalagi yang mau kau bicarakan! Aku sudah kedinginan!” Yoochun yang sudah hendak masuk kamar berteriak.

 

“Dimana dia bisa tidur?” Tanya Junsu pada semua orang yang ada di ruangan itu.

 

“Apa maksudmu? Sudah jelas kan dia akan sekamar denganmu!” sahut Yoochun kesal, ia lalu masuk ke dalam kamarnya.

 

“Tapi..tapi..”

 

“Tapi apa lagi!? Minggir!” Changmin juga meninggalkan Junsu.

 

Sooyoung memandang Junsu dengan bingung, sebenarnya tidak apa-apa baginya tidur dimana saja, asalkan di ruangan tertutup dan tidak bersama dengan namja tentunya.

 

“Memangnya kenapa kalau kalian sekamar?” Tanya Yunho sedikit heran. Dua orang itu sangat mencurigakan buatnya.

 

“Oh itu! ah begini, Soonam ini punya kebiasaan buruk saat tidur ia mendengkur nyaring sekali! Kalau sekamar dengannya tidak akan bisa tidur!”

 

“Ap-apa?aku tidak mendengkur! ” Sooyoung marah mendengar perkataan Junsu. Ia tidak tidak pernah mendengkur, oh pernah sih sekali-kali, tapi tidak sampai membangunkan orang lain, menurutnya.

 

“Iya Soonam kau mendengkur! Iya kan!” Junsu berusaha mengirim pesan melalui matanya. Untung saja yeoja itu segera sadar.

 

“O.. OH iya iya aku mendengkur sangat nyaring! Nyaring sekali sampai tetanggaku kadang bisa mendengar! Hahaha!” ujar Soonam meyakinkan Yunho.

 

Yunho hanya tertawa, namja yang baru datang itu benar-benar lucu, batinnya.

 

“Jadi aku tidur denganmu saja, biar Soonam tidur di kamarku malam ini, bagaimana?” usul Junsu.

 

“Terserah kau saja, tapi kau jangan memelukku saat tidur atau aku akan menendangmu keluar!” Yunho mengancam.

 

“Iya iya, paling meraba-raba  sedikit!” ujar Junsu sambil tertawa. Yunho mendelik kesal sementara Sooyoung memandangnya dengan pandangan campuran antara jijik dan aneh.

 

“Bercanda bercanda”  Junsu berkata pada Sooyoung tapi yeoja itu terlanjur menganggap pernyataannya adalah benar.

 

“Yah! Aku bercanda! Sekarang mari kuantar ke kamar, kau tampak kelelahan” Junsu meyeret Sooyoung ke kamarnya.

 

Sesaat sebelum meninggalkan sooyoung untuk beristirahat, Junsu mengingatkan beberapa hal yang harus mereka lakukan agar penyamaran Sooyoung tidak terbongkar.

 

“Ingat, namamu Choi Soonam. Kau itu namja, jadi jangan memanggilku oppa, tunggu, kau memang tidak pernah memanggilku oppa, panggil aku hyung—

 

“Tidak, Junsu saja!”

 

“Yah! Panggil aku hyung, atau mereka akan menganggapmu tidak sopan”

 

“Hmm” Sooyoung berpikir sejenak.”Baiklah”

 

“Kau sudah kenal mereka kan? Yoochun itu orangnya tidak terlalu perduli, Yunho memang orang yang ramah dan baik, tapi kau jangan lengah nanti dia akan mengetahui penyamaranmu! Dan yang terakhir Changmin, dia memang tidak suka dengan orang yang tidak dikenalnya dengan baik, ditambah lagi dia galak, kadang sombong dan ketus, lalu—

 

“Dari tampangnya saja ketahuan” gumam Sooyoung.

 

“Lalu Jaejoong, dia belum pulang, dia adalah pengatur dan pengurus rumah ini, dia—“

 

“Ah aku lelah!” Sooyoung terus memotong perkataan Junsu. Ia bosan dan mengantuk sekali.

 

“Ya sudah kalau begitu. Istirahatlah” Junsu beranjak dari keluar kamar.

 

“Tunggu!” Sooyoung yang sudah berbaring bangun kembali karena teringat sesuatu yang penting.

 

“Ada apa?”

 

“Kamar mandinya dimana? Sepertinya aku mau mandi dulu! Aku juga suka terbangun tengah malam karena ingin ke kamar kecil..”

 

“Kamar mandi di sini hanya ada tiga, satu di kamar Yoochun, di lantai atas di kamar Jaejoong, lalu kamar mandi yang ada di luar, di dekat kamar Changmin”

 

“Hmm baiklah kalau begitu keluar sana” usir Sooyoung.

 

“Kau ini…lishh” Junsu hanya bisa mendengus kesal dengan yeoja satu itu. dengannya dia sama sekali tidak sopan. Tapi kelakuannya yang alami seperti itu jadi tidak menyulitkan ia untuk menyamar, sudah mirip dengan namja. Junsu menutup pintu kamarnya, dan spontan terkejut, karena Changmin sudah berdiri di belakangnya.

 

“Kau ini mengagetkan saja” Junsu mengelus dada, menenangkan jantungnya yang tadi hendak melompat keluar.”Wae geure?”

 

“Anhi” Changmin melenggang meninggalkan Junsu.

 

“Huh! Anak aneh!” ujar Junsu.

 

 

 

***

 

 

 

Sooyoung meregangkan semua badannya, tidurnya nyenyak sekali. Ia bahkan tidak bangun-banguln lagi setelah junsu meninggalkannya di kamar tadi malam. Ia bangkit dan membuka jendela kamar, sinar matahari pagi langsung menyapanya. Setelah melakukan beberapa peregangan lagi, ia keluar dari kamar. Dan betapa terkejutnya ia.

 

Rumah itu berantakan. Berantakan sekali. Lebih berantakan dari tadi malam saat ia datang kemari. Sooyoung berjalan ke arah dapur, dan ia mendapati Junsu, Yoochun dan Changmin sedang tertidur pulas di sofa dekat tv yang masih menyala.

 

‘Dasar namja! Kalau begitu kenapa bingung dimana aku harus tidur, sedang mereka saja tidur di sofa’ Sooyoung tersenyum sinis. Ia mendekat tiga orang namja itu dan menyenggol kaki mereka dengan kakinya, tidak ada respon. Pikiran usilnya mulai bekerja. Ia melihat kesana-kemari di antara ruangan yang berantakan itu.

 

“Ah ini dia” gumamnya pelan sambil memungut sebuah spidol di lantai. Ia berjingkat pelan dan memandang namja-namja itu satu per satu.

 

“Yang mana duluan ya?” Sooyoung melihat ke arah Changmin yang menggulung di sofa.”Pastinya kau! Hehehe”

 

Sooyoung mendekat ke wajah Changmin. Namja itu tertidur dengan pulas, napasnya teratur. Sooyoung sudah bersiap-siap mencorengkan spidol itu di pipi Changmin.

 

“Wajahnya lucu juga kalau sedang tidur, seperti anak kecil” Spidol di tangan Sooyoung masih belum bergerak karena sang empunya tangan masih menatap pada calon korbannya.

 

“Aish apa yang kupikirkan! Kau ini tidak lucu sama sekali!” Sooyoung mendorong kepala Changmin, alisnya bergerak-gerak karena terganggu. Sooyoung langsung bersembunyi di samping sofa. Ia menoleh dan namja itu sekarang berbaring telentang.

 

“Fiuh untung saja..” Sooyoung kembali mendekati Changmin, ia lalu menoleh ke sekitarnya, memastikan tidak ada saksi mata sebelum akhirnya spidol itu mendarat di wajah Changmin.

 

“Hehehe.. hahaha.. Ups!” Sooyoung menutup mulutnya. Hampir saja ia tertawa terbahak-bahak, gawat kalau ia sampai membangunkan namja itu. ia bisa disiksa dan ditendang keluar.

 

Setelah puas ‘menghias’ wajah Changmin, Sooyoung beralih menuju wajah Junsu. Tapi ia dikejutkan olah suara tidak asing dari perutnya. Ia kelaparan.

 

“Aduh aku lapar.. “ ujar Sooyoung lirih. Ia mengurungkan niatnya menghias wajah Junsu. Ia harus mengisi perut dulu. Sebelum menuju dapur rumah itu, ia menyelipkan spidol di tangan Junsu, lalu tertawa lagi.

 

“Dimana dapurnya ya..?” Sooyoung berjalan mengitari rumah itu.

 

“Wuah.. lengkap sekali..” ujar Sooyoung saat melihat perlengkapan olah raga di salah satu ruangan yang dindingnya dari kaca.

 

“Wuah.. ada teras disini!” Sooyoung membuka pintu belakang rumah itu, dan pemandangan di teras belakang itu sangat hijau, penuh dengan tanaman.

 

“Wuah… perlengkapan dapurnya juga lengkap!” Sooyoung mengamati berbagai alat elektronik di dapur tersebut, dan segera saja pandangannya tertuju pada lemari es super besar yang ada di sudut dapur.

 

“Wuah.. besarnya..” Sooyoung membuka lemari es dan..

 

“WHAT?!?” lemari es itu kosong. Isinya hanya air mineral dan beberapa minuman kaleng.

 

“Tidak ada yang bisa dimakan?” Sooyoung membuka lemari di dapur dengan frustasi. Hasilnya sama, Kosong. Nihil. Nothing. Nada.

 

“Arggh! Aku lapar! Dasar namja! Sama sekali tidak ada makanan!”

 

Sooyoung akhirnya terpaksa pergi keluar untuk membeli bahan makanan. Setelah merapikan dirinya di kamar mandi, ia pergi keluar.

 

“Ah dimana mini market disekitar sini?” ujarnya pada diri sendiri.

 

Sooyoung berjalan dan terus berjalan sambil memperhatikan sekeliling, ia juga harus mengingat jalan pulan ke rumah. Setelah berjalan sekitar 15 menit akhirnya ia menemukan sebuah mini market. Langsung saja ia masuk ke dalamnya.

 

“Apa? Tidak ada makanan instan? Mie ramen? Ramyun?” Sooyoung memandang ke arah rak-rak yang tampak kosong.

 

“Ah mianhamnida, kami baru saja kehabisan stok makanan kemasan. Mungkin dua jam baru akan datang” ujar seorang karyawan mini market tersebut.”Tapi kalau mau anda bisa memilih sayuran segar dan bahan makanan lain di sebelah sana. Toko kami selalu terkenal lengkap dengan bahan makanan yang segar dan berkualitas” Karyawan itu menuntun Sooyoung ke arah yang dimaksud. Sooyoung tidak punya pilihan lain.

 

 

 

***

 

 

 

“Hah.. hah..” napas Sooyoung tersengal-sengal.

 

“Sial kenapa berat sekali!” Sooyoung mengumpat kesal. Ia menyesal tidak naik taksi dan memilih berjalan kaki. Ia mengira rumahnya dekat ternyata, ia malah kesasar dan berjalan berkeliling. Setelah setengah jam baru ia sampai di rumah. Keringat membasahi wajahnya, karena membawa barang belanjaan yang banyak.

 

Sooyoung melihat jam dinding. Sudah jam sembilan pagi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Sooyoung melintas di ruang tengah dan melihat tiga namja itu masih ditempat semula, hanya berbeda gaya tidur dari sebelum ia berangkat.

 

Setelah meletakkan barang-barang yang dibelinya di meja dapur. Ia lalu mencuci tangan dan mulai bekerja. Ia memang sudah biasa memasak sendiri, walaupun ia bertingkah tidak seperti yeoja kebanyakan, namun ia berpikir jika seorang yeoja harus bisa memasak. Ia beruntung memiliki umma yang pandai memasak, dan ia belajar banyak darinya.

 

Sooyoung mengangkat tangannya kebelakang kepala, hendak mengikat rambutnya. Namun ia tersadar saat mendapati tidak ada apa pun di punggungnya, rambut panjangnya sudah tidak ada. Ia hanya mendesah pelan, lalu mulai memasak. Mencuci beras, memotong sayur dan ayam.

 

 

Wangi makanan yang dibuat Sooyoung menyebar ke seluruh ruangan rumah itu. Yoochun yang sedang tertidur segera terbangun setelah mencium aroma yang makanan sangat enak. Jangankan aroma makanan, aroma nasi yang sedang dimasak pun sudah cukup untuk membuatnya lapar. ia melihat Junsu masih tertidur dan Changmin sudah lebih dulu bangun berjalan ke arah dapur.

 

“Akhirnya selesai!” sejam kemudian Sooyoung telah siap memetik hasil kerja kerasnya. “ah lapar sekali..” Sooyoung mengambil sendok dan bersiap menyantap bibimbap yang baru saja dimasaknya. Ia berdoa sejenak.

 

“Mari makaan..” Sooyoung hendak menyendok nasi di depannya, tapi belum sendoknya menyentuh mangkok, benda tersebut menghilang. Sesosok tangan mengambil mangkoknya yang berisi bibimbap.

 

“Hmm.. wanginya enak sekali” Yoochun mencium aroma yang mengepul dari mangkok Sooyoung.

 

“Hey kembalikan itu milikku!” ujar Sooyoung kesal.

 

“Kau ini makan sendiri! tidak sopan!” Yoochun lalu merampas sendok yang masih ada di tangan Sooyoung.”Aku makan duluan ya!” Yoochun duduk di meja makan dan mulai menyantap bibimbap buatan Sooyoung.

 

Changmin memperhatikan ekspresi wajah Soonam yang tampak sangat marah dan kesal dari sudut ruangan. Ia tersenyum sinis dan tidak sabar menyaksikan apa yang akan dilakukan Soonam kepada Yoochun.

 

‘Sepertinya akan terjadi perang.. haha dan orang itu pasti akan diusir pergi dari sini’ pikir Changmin.

 

Ia terus memandang Soonam, berharap namja itu akan mendamprat atau memukul Yoochun. Tapi sepertinya ia salah. Namja itu berdiri saja disana, terlihat menarik napas panjang beberapa kali lalu beranjak ke arah dapur di belakang meja makan. Ia mengambil mangkok lagi lalu membuka wajan di dapur. Ia kembali ke meja makan dengan mangkok yang penuh berisi bibimbap lagi. Changmin melongok melihatnya.

 

“Sudah kuduga ini akan terjadi” ujar Sooyoung seraya menarik kursi di depan Yoochun.

 

“Wah kau masak banyak ya! Baguslah kalau begitu! Kau pintar sekali memasak, ini enak sekali” Yoochun memuji Sooyoung.

 

“Nikmati saja” ujar Sooyoung sambil terus mengunyah makanannya.

 

“Changmin kemari kau mau makan tidak ini en—“ Yoochun menghentikan perkataannya. Sooyoung memandang ke arah Changmin. Mereka berdua terdiam dengan mata terbelalak

 

………………………………………………………………………………..

 

“BWAHAHAHAHAHA…” Yoochun dan Sooyoung tertawa terbahak-bahak.

 

Changmin memandang ke arah mereka dengan bingung. Ia melihat kesekeliling, mencari tahu apa yang ditertawakan oleh dua orang itu.

 

“Kenapa kalian tertawa?”

 

“Changmin wajahmu kenapa?” Yoochun menunjuk ke arah namja itu sambil terus tertawa. Changmin bergegas ke kamar mandi dan bercermin. Ia mendapati wajahnya penuh dengan coretan tinta spidol.

 

“ARGGHH! SIAPA Yang melakukan ini!” dia berteriak dari kamar mandi.

 

Sooyoung yang mendengarnya dari meja makan masih terus tertawa walaupun ia juga merasa gugup, tapi ia senang bisa menjahili Changmin.

 

“Ada apa ribut sekali” Junsu yang baru bangun menghampiri Yoochun dan Sooyoung di dapur.

 

Sooyoung memperhatikan Junsu yang masih memegang spidol di tangan kirinya, sambil mengantisipasi Changmin yang keluar dari kamar mandi dengan tampang murka.

 

“Siapa yang melakukan ini hah! Mengaku kalian!” Changmin menunjuk wajah namja lainnya dengan wajah yang basah.”Sial tinta ini sulit sekali hilang!” ia mengusap wajahnya.

 

Junsu hanya memandang heran, kesadarannya belum pulih benar setelah bangun tidur. Tapi setelah melihat wajah Changmin, ia spontan tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

 

“Haha Changmin! Wajahmu lucu sekali!” ia menunjuk wajah Changmin dengan tangannya yang masih memegang spidol…

 

“Kau! Junsu berani-beraninya kau!” Changmin menatap tajam ke arah Junsu.

 

“Apa aku kenapa?” Junsu menyeka air mata dengan tangannya.”Hey apa ini yang kupegang? Sejak kapan—“ Junsu berhenti tertawa saat menyadari benda yang ada ditangannya. Wajahnya mendadak pucat. Spidol itu terlepas gari genggamannya dan jatuh menggelinding di lantai.

 

“Changmin changmin dengarkan aku- aku bersumpah tidak melakukannya, bukan aku pelakunya” Junsu berkata tergagap. Percuma saja, Changmin sudah bersiap seperti harimau yang hendak menerkam mangsanya.

 

“Bukan aku! Aku bersumpah! Mereka yang melakukannya!” Junsu menunjuk dua orang lain yang masih duduk di meja makan dengan wajah innocent, tidak bersalah.

 

“Soo.. kau!” Junsu sepertinya sudah curiga pada Sooyoung.

 

“Aku.. bukan aku yang melakukannya. Aku bahkan tidak tahu ada spidol..” Sooyoung berkata dengan wajah polos. Changmin memandang ke arah Sooyoung dan kesempatan itu diambil Junsu untuk segera kabur, walaupun ia tidak bersalah, Changmin akan tetap memburunya.

 

“JUNSU! KEMARI KAU!” Changmin mengejar Junsu yang sudah mengambil langkah seribu dari ruangan itu, meninggalkan Sooyoung yang tertawa penuh kemenangan.

 

“Sepertinya kau senang sekali.. jangan-jangan..” Yoochun menatap Sooyoung curiga sambil terus melahap makanannya.

 

Sooyoung sadar dan langsung berhenti tertawa, melanjutkan makan “Aku tidak tahu-menahu” ujarnya tenang.

 

Yoochun hanya tersenyum “Tidak apa-apa, tadi adalah tontonan yang menarik” ia tertawa dan menghabiskan suapan terkahir bibimbapnya.

 

“Gomapta, masakanmu enak sekali”

 

“Itu tidak gratis” ujar Sooyoung.”Aku membeli semuanya dengan uangku sendiri. kau harus menggantinya”

 

“Apa!? Kau sudah tinggal di sini dengan gratis, masih meminta bayaran juga! Kau!” Yoochun berkata dengan suara nyaring.

 

“Itu hal yang berbeda, yang jelas makanan ini tidak gratis” jawab Sooyoung kalem.

 

“Apa katamu?! Tidak aku tidak mau membayar! Enak saja! Tidak mau!” Yoochun meninggalkan Sooyoung dengan kesal. Ia pergi sambil terus berkata tidak akan membayar dan tidak mau tahu.

 

Sooyoung hanya menarik napas,

 

“Dasar namja!”

 

***

 

“Kau mau pergi Soonam?” tanya Yunho pada Sooyoung yang sudah berpakaian rapi. Sooyoung mengangguk.

 

“Ne, aku mau mencari lowongan pekerjaan”

 

“Soonam! Tunggu!” Junsu muncul sambil memegang kompres di kepalanya.”Kau tahu jalan pulanh kan?”

 

“Yah Ju- Hyung! Tentu saja memangnya aku anak kecil” ujar Sooyoung.

 

“Aku akan bertanya pada temanku dan aku akan memberitahumu kalau ada lowongan pekerjaan” ujar Yunho.

 

“Gomapta Yunho-ssi” Sooyoung tersenyum sambil membungkuk pelan.

 

“Panggil aku hyung saja” Yunho tersenyum.

 

“Baiklah Yunho hyung, Junsu hyung aku pergi dulu” Sooyoung berpamitan lalu meninggalkan dua namja tersebut.

 

“Dia orang yang baik dan manis juga” ujar Yunho sambil memandang ke arah Sooyoung.

 

“Ya kau benar…” Junsu menggumam. “Hey kau bilang apa tadi?” tanyanya pada Yunho.

 

“Anhi” Yunho masuk kembali ke dalam rumah.

 

***

 

 

 

Sooyoung melihat ke sekeliling ruangan kafe tersebut, tapi orang yang ditunggunya tidak juga muncul.

 

“Sunny kenapa lama sekali” ujarnya kesal sambil memperhatikan jam di dinding kafe itu.

 

“Annyeong!” sebuah suara dengan nada riang mengagetkannya. Sunny ternyata sudah ada di belakangnya.

 

“Mianhe kau lama menunggu, aku agak bingung mencari kau dimana karena kau tampak berbeda!” ujarnya sambil menarik kursi di depan Sooyoung.

 

Yeoja itu hanya tersenyum simpul melihat Sunny yang selalu tampil bersemangat dan lincah, seperti tidak ada satu masalahpun dalam hidupnya.

 

“OMO! Sooyoung aku ikut sedih mendengar musibah yang kau alami, kau tahu aku sangat terkejut mendengar ceritamu saat di telepon tadi!” ujarnya prihatin.

 

“Tapi aku senang melihat kau baik-baik saja sekarang.. ah tapi rambutmu sayang sekali..” ujarnya sambil memandang Sooyoung dengan sedih.

 

Sooyoung hanya tersenyum kecut mengingat rambutnya.”Sudahlah tidak apa-apa, sekarang yang penting aku perlu bantuanmu! Kau bilang akan mencarikanku pekerjaan kan?”

 

“Ya tentu! Kau beruntung sekali Sooyoung, tadi bibiku menelepon dan dia bilang salah seorang kenalannya sedang membutuhkan bantuan!” ujar Sunny dengan semanaat.

 

“Bantuan seperti apa maksudmu?”

 

“Dia sedang mencari guru privat untuk anaknya! Bagaimana kau mau?”

 

“Guru pivat?” Sooyoung berkata dengan ragu-ragu. Ia belum pernah mengajar seseoang sebelumnya.

 

“Iya! Hanya tiga kali seminggu setiap malam”

 

Sooyoung berpikir. Tidak ada salahnya mencoba. Ia menyetujuinya.

 

“Bagus sekali. Kalau begitu sekarang kita pergi bersiap-siap!” ujar Sunny bangkit dari tempat duduknya dan menyeret lengan Sooyoung.

 

“Siap-siap? Apa kau mau mengantarku kesana sekarang?” tanya Sooyoung yang kesulitan berjalan mengikuti Sunny yang setengah berlari.

 

“Tidak! Tapi kau dan aku harus melakukan sesuatu hal yang penting dulu!” ujarnya tersenyum misterius.

 

***

 

 

 

“Yang ini… ah bukan yang ini saja.. oh no this is bad” Sunny masih sibuk mencari-cari pakaian yang pas. Seorang karyawan toko tampak mengikutinya dengan tampang kesal karena Sunny sudah mengobrak-abrik semua rak pakaian di toko itu.

 

“Sunny, apa yang kau cari sebenarnya?” Sooyoung berbisik pad Sunny, ia tidak enak melihat tatapan tajam sang karyawan toko.

 

“Sudah kau lihat saja, aku sedang mencarikan pakaian untukmu..” Sunny menarik satu shirtdress dari rak, tapi kemudian menggelengkan kepala dan menaruhnya kembali.

 

“Oh jadi anda sedang mencarikan pakaian untuk namja ya? Kalau begitu ada di sebelah sana” ujar karyawan itu.

 

“Siapa yang mencari pakaian namja” ujar Sunny sewot.

 

“Lho bukannya anad tadi bilang mencarikan pakaian untuknya?” Tanya karyawan itu sambil menatap ke arah Sooyoung.

 

“Yah! Dia ini yeoja bukan namja!” Sunny cemberut.”Ayo kita pergi darisini Sooyoung, pakaiannya tidak ada yang cocok denganmu” Sunny menarik lengan Sooyoung pergi dari tempat itu sementara sang karyawan memandang mereka dengan kesal.

 

“Mianhamnida” Sooyoung membungkuk pelan padanya sebelum meninggalkan toko itu.

 

***

 

“Sunny-ah memangnya kenapa aku harus berpakain seperti ini?” tanya Sooyoung saat Sunny akhirnya menemukan toko yang menjual pakaian yang pas untuk Sooyoung.

 

“Pakai saja dulu, aku mau lihat” Sunnya menyodorkan sebuah blus dan rok pada Sooyoung.

 

“Aku tidak suka pakai rok, celana saja”

 

“Yah! Aku sudah lelah memilihkannya untukmu!” Sunny mendorong Sooyoung ke dalam kamar pas.”Sepatunya jangan lupa, Pakai! awas kalau tidak!” ancamnya sambil menutup pintu.

 

“Aishhh” Sooyoung mendesah pelan.

 

Setelah beberapa menit, Sooyoung akhirnya keluar dan Sunny segera tersenyum puas melihatnya. Perfect.

 

“Bagaimana?” Tanya Sooyoung sambil membetulkan roknya yang sepanjang lutut.

 

“Cocok sekali!” Sunny mengangkat kedua jempolnya. “kau cantik sekali!” ujarnya senang.

 

“tapi masih ada yang kurang..” Sunny lalu meninggalkan yeoja itu sendiri.

 

Sooyoung memandang bayangannya di cermin. Ini adalah pertama kalinya ia memakai pakaian yang menurutnya feminim sekali, semua karena yeoja bernama Sunny itu. ia heran kenapa sama sekali tidak bisa menolak permintaanya untuk mengenakan semua pakaian ini. Ternyata ia lumayan cantik juga, pikirnya.

 

“Ini dia sudah kutemukan!” Sunny muncul sambil membawa sebuah wig dengan rambut panjang berwarna kecoklatan.

 

“Sooyoung pakai ini!”

 

“Apa? Aku tidak mau! Untuk apa menggunakan wig segala?” Sooyoung menolak. “Sudah cukup kau menyuruhku berpakaian seperti ini, aku tidak mau memakai wig itu!”

 

Sunny mendesah pelan. “Sooyoung, dengarkan aku, ini semua demi kebaikanmu”

 

“Iya, tapi kenapa?” ujar Sooyoung.

 

“Begini, orang yang mempekerjakanmu nanti menginginkan seorang yeoja. Ia tidak mau anaknya diajari oleh seorang namja, dan ia cukup pemilih. Begitu yang dikatakan oleh bibiku, jadi kau nanti harus memberikan kesan yang baik saat bertemu dengannya” jelas Sunny.

 

Sooyoung terdiam, harus sebegitu repotnya kah hanya untuk menjadi guru les privat?

 

Sunny membantu Sooyoung memakaikan wig itu dan setelah terpasang sempurna, ia baru menyadari kalau Sooyoung terlihat sangat cantik.

 

“Aigoo kau seperti orang lain Sooyoung!” Sunny terkesima dengan penampilan baru Sooyoung. tidak terkecuali Sooyoung sendiri. ia memandang ke arah cermin tanpa berkedip.

***TBC****

Updated! mian kalau gaje ya.. komen jangan lupa 😀

MB masih dalam proses hehehe….

 

 

Iklan