Tag

, , ,

Cast : Sooyoung, Kyuhyun

Genre : Romance

Rating : PG-13

 

Twin Cherries

”If I had a single flower everytime I think about you, I could walk forever in my garden”

Sooyoung berjalan pelan menuju kursi taman, yang terletak tepat  di bawah sebuah pohon cherry. Bunganya yang berwarna merah muda, mekar sempurna saat pertengahan musim semi seperti sekarang, berjatuhan setiap kali angin bertiup sedikit lebih kencang, melapisi tanah di bawahnya dengan karpet merah muda yang indah. Beberapa kelopak bunga jatuh di pangkuan dan rambutnya, namun ia membiarkannya, karena memang ia menyukai hal itu. Duduk sendiri di sana merupakan kebiasannya sejak dulu. Ia hanya pergi ke tempat itu sekali atau dua kali seminggu, untuk sekedar melepaskan beban pikiran sambil menghirup udara segar dan mungkin, mengamati apa saja yang dilakukan orang di taman itu. kadang-kadang hanya dengan melihat ekspresi wajah bahagia mereka saat menghabiskan waktu di taman itu, bisa membuatnya tersenyum.

Setelah meletakkan tasnya, dan membuka kancing jas yang dikenakannya, ia duduk di sana. Menghirup napas dalam, menikmati aroma musim semi yang bercampur dengan harum bunga cherry. Matanya memandang ke sekeliling taman, beberapa orang anak tampak bermain dengan riang, sementara orang tua mereka tampak berbincang-bincang dengan santai. Kadang sepasang remaja melintas di depannya. Ia Sepasang namja dan yeoja yang tampak malu-malu bergandengan tangan dan saling berpandangan dengan pipi yang bersemu merah. tersenyum melihat tingkah laku keduanya.

Diseberang kursi taman yang ia tempati sekarang, mungkin beberapa meter ke arah kanan, terdapat pohon cherry yang besarnya persis sama dan kursi yang juga identik. Sooyoung tidak pernah duduk di sana, ia hanya suka menempati kursi ini. Tapi pohon cherry dan kursi itu memiliki arti tersendiri buatnya. Di sana ia melihat seorang namja, saat ia masih berumur belasan seperti sepasang remaja yang baru melintas. Beberapa tahun lalu, saat ia baru memulai kebiasaan mengunjungi taman itu.

Namja itu, duduk sendiri sambil memegang sebuah bunga mawar putih. Wajah putihnya tampak sumringah dan warna merah muda di pipinya hampir sama dengan warna bunga cherry yang sedang mekar dan berjatuhan di sekitarnya. Matanya berwarna sama dengan rambutnya, cokelat seperti batang pohon cherry. Ia berumur kurang lebih sama dengan Sooyoung. Mungkin hanya satu atau dua tahun lebih tua. Ia tampaknya sedang menunggu seseorang yang sekiranya akan segera menerima mawar yang digenggamnya.

Dari kejauhan Sooyoung melihat seorang yeoja yang juga berumur belasan berjalan mendekat menghampiri namja itu. Mudah ditebak, ia pasti adalah seseorang yang sudah ditunggu olehnya. Sooyoung terus mengamati mereka. Dari tempatnya duduk, ia sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi hal itu terbaca jelas dari ekspresi wajah keduanya. Sooyoung bisa melihat senyum namja itu perlahan-lahan memudar ketika yeoja di hadapannya mengatakan seseuatu dengan wajah sedih dan tertunduk. Namja itu menggenggam tangannya, menahannya agar tidak pergi sementara mawar yang di tadi masih di genggamnya sekarang sudah jatuh dan terinjak-injak.

Sooyoung terus memandang lekat pada namja itu, sampai akhrinya yeoja itu meninggalkannya sendiri duduk di bawah pohon cherry, dengan airmata yang masih mengalir di pipinya. Pipinya yang putih kini dihiasi warna kemerahan, yang menegaskan perasaan namja itu saat ini. Kemarahan.

Sedikit bagian dari dirinya ingin menghampiri namja itu dan menghiburnya. Rasanya tidak nyaman melihat seseorang bersedih saat musim semi datang. Tapi, sebagian dari dirinya melarangnya melakukan itu. ia tidak mengenalnya dan begitu pula sebaliknya. Mencampuri perasaan seseorang di saat yang tidak tepat hanya akan membawa masalah baru. Sooyoung tetap duduk di tempatnya sampai akhirnya namja itu berhenti menangis dan pergi dengan langkah gontai.

 

Angin bertiup cukup kencang, membuat kelopak bunga cherry menghujani Sooyoung yang sedang melamun. Ingatannya terhadap namja itu sama sekali belum hilang. Ia masih hapal hari-hari tertentu dimana namja itu terlihat masih sering duduk di tempat yang sama. Memandang dengan tatapan kosong, tidak memperhatikan keadaan sekitarnya. Beberapa kali Sooyoung melihatnya melakukan hal yang sama, namun lama-kelamaan ekspresi wajah namja itu mulai berubah. Seperti yang ia rasakan, sekedar duduk di taman itu bisa membuatnya tersenyum dan menghilangkan sedikit beban pikirannya. Hal itu pun nampaknya bekerja pada namja itu. Ia tidak lagi hanya duduk melamun, ia kadang tersenyum dan menyapa orang di sekitarnya.

Namja itu terkadang memandang ke Sooyoung yang duduk di seberangnya, tapi dengan bodohnya, ia yang saat itu masih polos dan pemalu malah berpura-pura tidak melihat, menunduk atau memandang ke arah lain. Ia terpaksa melakukannya, karena jika ia memandang namja itu, jantungnya akan berdebar tidak karuan dan ia sekuat tenaga melindungi wajahnya yang bersemu merah. Sooyoung tersenyum sendiri mengingatnya, mengingat dirinya yang salah tingkah setiap kali namja itu memandangnya balik. Kebodohannya saat itu memang menggelikan, tapi hal itu juga yang membuatnya menyesal sampai sekarang.

Tepat di akhir musim semi, namja itu menghilang. Sooyoung tidak pernah melihatnya lagi setelah sehari sebelumnya ia tanpa sengaja bertatapan mata dengannya, dan namja itu tersenyum. Manis sekali, sampai Sooyoung merasa wajahnya saat itu pasti sudah semerah buah tomat. Sooyoung tetap datang ke taman itu besoknya, namun namja itu tidak pernah muncul. Lusa, seminggu, sebulan, setahun kemudian, tidak ada sedikitpun kesempatan bagi Sooyoung untuk melihatnya lagi. Ia sangat sedih, ia merasa kehilangan sesuatu tapi ia mengingkarinya. Ia menyangkal semua itu karena namja yang tidak pernah datang ke taman itu lagi. Pikirannya mungkin menolak, tapi hatinya terus menginginkan datang ke taman itu, dengan harapan suatu saat akan bertemu dengan namja tersebut.

“Sooyoung-ssi”

Suara seorang ahjussi membuyarkan lamunannya. Ia seketika mendongak dan mendapati orang itu sudah duduk di sebelahnnya.

“Oh, annyeong hashimnikka,  Park ahjussi, mianhamnida aku tidak melihat anda” Sooyoung membungkuk pelan pada ahjussi tersebut, yang tidak lain adalah petugas penjaga taman itu. Karena sudah sering taman itu, ia menjadi kenal dengannya. Ahjussi itu hanya tersenyum ramah.

“Kau kulihat sering melamun akhir-akhir ini. Ada masalah?”

“Aniyo, tadi aku hanya teringat kenangan beberapa tahun lalu di taman ini” jawab Sooyoung pelan,

“Hmm.. taman ini memang sudah banyak menyimpan kenangan bagi orang-orang di kota ini. Mereka kemari untuk sekedar mengingat kejadian berharga di masa lalu yang terjadi di sini. Tapi sayang, sepertinya hal itu tidak akan pernah dapat kau dan mereka lakukan lagi” ucap Tuan Park dengan nada sedih.

“Ahjussi, apa yang sedang anda bicarakan?” Sooyoung mendadak merasa sedih mendengarnya.

“sepertinya pemerintah berencana membangun sebuah apartemen di kota ini, dan malangnya, taman ini mungkin akan segera dihancurkan setelah musim semi ini berakhir”

“Ap..apa? dihancurkan.. ta-tapi kenapa begitu?” Sooyoung tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Matanya sekarang sudah mulai berair.

“Mianhe Sooyoung-ssi, aku sudah membuatmu sedih. Aku juga tidak tahu mengapa pemerintah tidak memilih lokasi lain saja untuk membangun apartemen itu. seandainya bisa, aku mungkin akan berusaha sekuat tenaga agar taman ini tidak hilang” namja paruh baya itu menepuk pundak Sooyoung yang sekarang menangis.

Taman itu, taman dengan dua pohon cherry kembar, tempat ia dan namja itu pertama kali bertemu, tidak akan bisa ia lihat lagi. Ia sangat sedih mengetahui kenyataan kalau ia dengan namja itu mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.

Tidak berapa lama Ahjussi itu meninggalkan Sooyoung yang masih duduk terpaku di tempatnya. Yeoja itu sesekali masih mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia tetap tersenyum, menyadari bahwa harapannya sekarang sudah hilang, ia mungkin ditakdirkan tidak bertemu dengannya lagi. Sooyoung bangkit dari tempat duduknya, ia ingin mengitari taman itu untuk meringankan perasaannya sekarang.

Ia menoleh ke bangku dan pohon cherry di seberangnya, namun ia terkejut. Disana berdiri seorang namja. Entah sejak kapan namja itu berdiri di sana, Sooyoung tidak tahu. Namja itu adalah namja yang sama seperti dilihatnya beberapa tahun yang lalu. Yang berbeda adalah sekarang namja itu tumbuh menjadi seorang namja berbadan tinggi dan tegap, wajahnya yang dulu manis sedikit tertutupi dengan garis-garis wajahnya yang semakin tegas, menandakan kedewasaannya. Rambut cokelatnya lebih pendek dan tertata rapi, namun matanya masih sama seperti dulu. Wajahnya masih bersemu merah muda seperti kelopak bunga cherry, dan ia menggenggam bunga mawar dengan warna yang sama, putih.

Lama Sooyoung hanya berdiri di tempatnya, sama sekali tidak bergerak. Begitu pula dengan namja itu, ia berdiri seperti menunggu seseorang. Sooyoung ingin sekali menghampirinya, tapi saat kakinya sudah mulai melangkah, seorang yeoja tiba-tiba muncul dan memeluk namja itu. Mereka berpelukan erat, seperti dua orang yang lama sekali tidak pernah bertemu.

Air matanya kembali mengalir. Yeoja di pelukan namja itu juga menangis, tidak ingin melepaskan pelukannya. Sooyoung lagi-lagi menyunggingkan senyuman, menyadari kebodohannya. Bagaimana mungkin ia menunggu seseorang yang tidak ia kenal dan ia tidak tahu pasti, apakah ia memiliki perasaan khusus padanya walaupun dalam hati, ia berharap yeoja yang dipeluknya itu adalah dirinya. Ia merasa seperti orang bodoh sekarang. Ia benci mengakuinya, tapi memang selama ini ia menunggu seseuatu yang tidak pasti. Bahkan sahabat terdekatnya pun, tempat ia berbagi cerita selama ini mengatakan kalau ia harus mulai berhenti memikirkan nama itu. Sooyoung tahu sahabatnya khawatir dengannya, namun ia sendiri perlu mencari kepastian. Kepastian yang ia sendiri tidak tahu kapan akan datang.

Hari ini ia sudah mendapatkan jawaban dari apa yang ia tunggu, namja itu. Dan hal itu tepat sekali, karena harapan dan penantiannya selama ini akan turut hilang saat taman itu dihancurkan. Mungkin itu adalah jalan terbaik karena Tuhan mungkin juga sudah bosan melihatnya menunggu di taman itu. Perlahan-lahan Sooyoung meninggalkan tempat itu, ia  merasa sekarang sudah bukan bagian dari taman itu lagi.

 

***

 

Seorang namja tampak berusaha sekuat tenaga melepaskan dirinya dari pelukan yeoja yang masih menangis. Ia heran darimana yeoja itu bisa tahu kalau hari ini ia pulang ke kota itu setelah 5 tahun. Dan ia lebih heran lagi saat yeoja itu langsung memeluknya, padahal mereka sudah tidak punya hubungan apa-apa. Yeoja itu sendiri juga yang mengakhiri semuanya.

“Kyuhyun-ah naega  bogoshippoeyo..” ujar yeoja itu tidak igin melepaskan pelukannya.

“Hentikan, aku sudah tidak ada perasaan apa pun padamu, Victoria-ssi” Kyuhyun akhirnya berhasil menggenggam kedua tangan yeoja itu dan melepaskan pelukannya.

“Tapi.. kau masih datang ke tempat ini, kau masih menunggu kan?” tatap Victoria pada Kyuhyun, wajahnya basah karena air mata.

“Tidak, aku kesini tidak untuk menunggumu. Kau sendiri kan yang mengatakan padaku jangan menunggumu disini lagi. Jadi sekarang tinggalkan aku!” Kyuhyun berkata dengan suara agak nyaring. Ia sudah tidak bisa menahan kesabaran, dan ia semakin marah saat menyadari kursi di bawah pohon cherry di seberangnya sekarang sudah kosong.

“Victoria-ssi, kukatakan sekali lagi, kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa, dan tolong hentikan tangisanmu itu. Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh ingin kembali padaku. Kau melakukannya karena Nichkhun meninggalkanmu juga kan?”

Victoria hanya terdiam mendengarnya. Kyuhyun tersenyum sinis, ia tahu perkataannya tepat pada sasaran.

“Sudahlah, aku tidak bermaksud menyinggungmu, kita masih bisa berteman tapi untuk kembali seperti dulu.. tidak akan bisa” Kyuhyun menepuk pundak Victoria dan beranjak pergi. Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan, ia menoleh pada pohon cherry itu, berharap bayangan yang dikenalnya ada disana, tapi sepertinya ia sudah terlambat.

 

***

 

Kyuhyun kembali lagi ke tempatnya kemarin. Sekarang ia membawa dua tangkai mawar putih dan ia duduk di kursi taman di bawah pohon cherry yang sama seperti kemarin. Ia terus menunggu yeoja itu sampai matahari hampir terbenam, tapi tidak terlihat tanda-tanda kalau yeoja itu akan datang. Keesokan harinya ia datang kembali, kali ini dengan tiga tangkai mawar putih. Namun hasilnya tetap sama, yeoja itu tidak kunjung muncul. Keesokan harinya, lusa seminggu kemudian ia tetap datang dengan jumlah tangkai bunga mawar yang terus bertambah. Tapi hasilnya tetap sama, yeoja itu tidak pernah sekalipun terlihat disana.

Pohon cherry di taman itu sudah mulai banyak kehilangan warna merah muda di dahannya. Bunga-bunga cherry yang berjatuhan sudah semakin sedikit dan warnanya tidak secerah saat pertama kali mekar di musim semi. Demikian pula dengan wajah namja itu, wajahnya tidak secerah saat pertama kali ia datang ke taman itu, tapi ia tetap datang kesana.  Ia berjalan dengan pelan memasuki taman itu. Bunga mawar ditangannya sekarang sudah berjumlah tiga puluh tangkai. Satu tangkai untuk setiap hari ia menunggu yeoja itu disana.

Hari ini matahari sore bersinar cerah, musim panas sebentar lagi akan datang. Beberapa pengunjung yang biasa bermain disana jumlahnya semakin berkurang, seiring dengan semakin panasnya suasana sore musim akhir musim semi. Namun berapapun panasnya hari itu, Kyuhyun merasakan kesejukan yang menyelimuti tubuhnya saat melihat yeoja itu, yeoja yang ditunggunya selama ini duduk dengan mata terpejam di bawah pohon cherry yang bunganya hampir hilang.

Kyuhyun berjalan pelan mendekati yeoja itu, ia melangkah dengan hati-hati agar tidak mengganggunya. Sampai ia duduk di sana, yeoja itu tidak kunjung membuka matanya. Kyuhyun mengamati wajah yeoja itu dari samping. Itu adalah pertama kalinya ia mengamati wajah yeoja itu dari dekat, dan ia sekarang mengetahui kalau yeoja itu benar-benar cantik. Wajahnya hanya sedikit berbeda dari 5 tahun yang lalu, saat ia hanya bisa memandangnya dari kejauhan selama sebulan, sebelum akhirnya memutuskan meninggalkan kota itu untuk sementara.

Rambut yeoja itu terurai, panjangnya sebahu. Beberapa kelopak bunga cherry jatuh di rambutnya, dan Kyuhyun tidak bisa menahan keinginan untuk menyingkirkannya. Perlahan ia mengambil beberapa kelopak bunga itu dan segera saja yeoja di sampingnya membuka matanya karena terkejut.

“Mianhe, aku mengagetkanmu ya?” ujar Kyuhyun sambil terseyum hangat.

Sooyoung hanya menatapnya tidak berkedip. Wajahnya masih menujukkan kalau ia belum sadar benar dengan apa yang sedang terjadi.

“Se-sejak kapan kau disini?” ujarnya terbata.

“Baru saja” ujar Kyuhyun. “Bunga ini untukmu” ia lalu menyerahkan bunga itu pada Sooyoung.

Sooyoung memandang heran dengan bunga mawar ditangannya, lebih heran lagi pada namja di sebelahnya.

Kyuhyun tersenyum, tapi menyadari wajah Sooyoung yang tampak keheranan, ia menyadari kebodohannya.

“Oh iya, mianhe, namaku Kyuhyuh, Cho Kyuhyun. Ah kau pasti bingung kenapa seorang asing sepertiku tiba-tiba memberimu bunga mawar. Sekali lagi joesonghamida” ujar Kyuhyun sambil menawarkan jabat tangan.

“Sooyoung. Choi Sooyoung” Sooyoung menjabat tangan namja itu. “Kau terasa seperti orang asing” lanjutnya.

“Gomawoyo, tapi apa kau tidak salah memberikan bunga ini padaku?” tanya Sooyoung dengan wajah sedih.

“Anhi. Aku sudah menunggu hari ini sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku tidak mungkin salah”

Sooyoung spontan menoleh ke arah namja itu. ia tidak percaya yang di dengarnya barusan.

“Maksudmu apa Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun menarik napas panjang. “Aku menunggu yeoja yang 5 tahun lalu sering duduk disini. Sebelum aku meninggalkan kota ini 5 tahun yang lalu aku sudah menyukai yeoja itu. sayangnya, saat itu aku terlalu malu menghampirinya, maksudku yeoja itu melihat saat aku ditinggalkan oleh seorang yeoja dengan menyedihkan. Aku takut jika aku mendekatinya, ia akan salah paham padaku”

Sooyoung mendengarkan perkataan namja itu dengan seksama.

“Karena aku harus melanjutkan pendidikanku, aku meninggalkannya. Tapi aku sudah berjanji jika kembali kesini aku akan mengatakan perasaanku padanya”

Kyuhyun menghentikan ucapannya dan menoleh paada yeoja disampingnya. Warna merah muda tampak di pipi yeoja tersebut.

“Namun pada hari pertama aku datang kesini, ada gangguan kecil dan yeoja itu tidak pernah datang lagi. Setiap hari aku menunggunya dengan mawar-mawar itu. satu tangkainya melambangkan hari yang kulalui disini menunggunya”

Sooyoung masih menunduk.

“Yeoja itu adalah kau Sooyoung-ssi”

Sooyoung tidak bisa berkata apa-apa, airmata mengalir pelan dipipinya, tapi bibirnya tersenyum.

“Kau katakan satu tangkai bunga mawar ini adalah satu hari kau menungguku?”

Kyuhyun mengangguk.

“Kalau begitu aku tidak tahu berapa banyak yang bunga mawar yang kubutuhkan untuk menunggumu” Sooyoung menatap namja itu penuh arti.

Kyuhyun tersenyum mendengar perkataan Sooyoung.

Angin bertiup perlahan, menerbangkan beberapa helai bunga cherry yang masih tersisa. Di taman  itu, seorang namja dan yeoja sudah memiliki jawaban dari apa yang mereka tunggu selama ini. Walaupun taman dengan pohon cherry kembar itu pada akhirnya akan menghilang, namun kenangan indah yang ada bersamanya akan tetap tersimpan di hati mereka.

”If I had a single flower everytime I think about you, I could walk forever in my garden”Claudia Ghandi.

=======================================================

 

Oh my god.. another failed oneshot! tsk tsk..

Selingkuh dari Changsoo dulu ah.. bosan hehehehe.. padahal belum pernah bikin Changsoo oneshot malah duluan bikin Kyuyoung…

Mian ya kalau jelek, rada gaje ga nyambung ga jelas dan sebagainya…

tapi kalau reader baca harap meninggalkan jejak ya.. hehehe..

NB: karena ff yang lain komennya dikit, author jadi malas buat update hehehe..

Iklan