Tag

, , , , , , , , , ,

Update.. kalau lupa sama chapter sebelumnya.. baca aja dulu hahaha..

Chap 1, Chap 2, Chap 3

Chapter 4

By: Sasha_mad

“Jadi yeoja-yeoja itu berkelahi denganmu hanya karena kau tertangkap oleh mereka sedang memandangi namja.. uh.. siapa tadi namanya .. Mm.. Micky! Micky Mouse itu?” tanya Sooyoung.

Yoona mengangguk’ “Hal seperti itu sudah biasa terjadi. Aku tidak ambil pusing dengan mereka”

“Hhh ada-ada saja. Yeoja-yeoja itu tidak punya kerjaan lain apa selain mengekor namja”. Sooyoung menggeleng-gelengkan kepala. Disaat ia saat menginginkan kuliah seperti halnya mereka, yeoja-yeoja itu malah membuang waktu mereka dengan hal yang tidak berguna.

“Yoona-ssi, mianhe. Aku pergi dulu, masih ada yang harus kulakukan” ujar Sooyoung.

“Oh ne, Sooyoung-ssi. Aku juga sedang menunggu jemputan, sebentar lagi aku juga pulang” Yoona bangkit dari kursinya.

“Annyeong”

Setelah berpamitan dengan Yoona, Sooyoung kembali menyusuri jalanan di kota Seoul. Hari ini ia harus mencari pekerjaan sekaligus tempat tinggal. Tapi yang paling penting sekarang ia harus mencari tempat tinggal dulu, kalau bisa yang super murah karena ia harus berhemat. Sambil berjalan ia melihat-lihat sekeliling, siapa tahu ada toko yang sedang memerlukan karyawan tambahan. Tetapi Sooyoung merasakan seseuatu yang aneh saat ia berjalan. Ia merasa seperti sedang diikuti oleh seseorang. ia menoleh, tapi tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan. Orang-orang disekelilingnya tampak berjalan seperti biasa. Sooyoung kembali berjalan dan mempercepat langkahnya, perasaannya mengatakan jika orang yang mengikutinya juga ikut berjalan dengan cepat. Sekali laagi ia berbalik, namun seperti sebelumnya, tidak ada siapapun dibelakangnya. Akhirnya Sooyoung menyerah, mungkin itu hanya perasaannya saja. Ia kembali melanjutkan perjalanan.

***

“Hah! Hampir saja aku ketahuan!” gumam Junsu dari balik tempat sampah.

Ia daritadi mengikuti Sooyoung, tapi sampai sekarang belum mengetahui kemana yeoja itu akan pergi. Malah dilihatnya Sooyoung seperti orang yang sedang kebingungan dan mencari-cari sesuatu.

“Sebaiknya aku menunggu sampai ia berjalan agak jauh dulu”

***

“Yoong, aku sudah sampai di dekat kampusmu. Kau dimana?” suara seorang namja terdengar dari seberang sambungan telepon.

“Aku sudah melihat oppa. Tunggu sebentar aku akan segera kesana!” Yoona berjalan ke arah seorang namja dengan pakaian stylish yang berdiri dekat Audi putih.

“Annyeong Oppa!”

“Hah!? Siapa kau!” Namja tadi malah melonjak kaget sampai-sampai ia harus bersandar di mobilnya.

“Heechul oppa! Ini aku dongsaengmu!” ujar Yoona sambil melepaskan kacamata tebal dan jadul miliknya.

Heechul memandangi yeoja di depannya lekat-lekat, mencoba mengenali dengan seksama. Bagaimana mungkin yeoja yang tampak seperti baru keluar dari mesin waktu dari tahun 60-an ini bisa mengaku sebagai Yoona, dongsaengnya yang cantik.

“Kau Yoona?” tanyanya ragu.

“Ne” Yoona mengangguk.

“Oh My God!” Heechul segera menarik tangan Yoona supaya masuk ke dalam mobil.

“Yah! Oppa apa-apaan ini!”

“Masuk saja cepat!” Heechul menutup pintu mobil dan melihat ke sekitarnya. Seperti taku kalau ada yang sampai melihat ia sedang bersama Yoona.

“Oppa tanganku jadi sakit!” seru Yoona saat Heechul sudah masuk ke dalam mobil.

“Kau ini! Kenapa berdandan seperti itu. Itu-itu.. Aishhh! Jelek sekali!” seru Heechul tak kalah nyaring.

“Bagaimana kalau sampai teman-temanku melihatmu Yoong. Aku ini editor majalah fashion terkenal! Bisa-bisanya kau berpakaian seperti ini! Belum lagi kawat gigi, kacamata! Kau seperti Betty La Fea versi Korea! Fashion Disaster!!” Heechul panik.

“Ah oppa bisa saja! Hahaha” Yoona malah tertawa.

“Yoong serius! Kenapa pakaianmu seperti ini? Kau mau membuatku malu apa?”

“Anhiyo oppa.. aku berpakaian seperti ini agar aku tidak menjadi pusat perhatian”

“Apa maksudmu? Dengan dandanan seperti itu semua mata pasti melihatmu!”

“Maksudku aku tidak mau dikejar-kejar namja terus, seperti dulu”  jelas Yoona.

Heechul terdiam, mencoba mencerna perkataan dongsaengnya. Memang benar Yoona dulu selalu menjadi pusat perhatian, ia sangat cantik dan banyak namja yang jatuh hati padanya.

“Aku lelah selau dikerumuni oleh mereka, lebih baik seperti ini. Aku yakin tidak ada seorangpun namja yang mau mengejarku! Hehehe” Yoona terkekeh.

Heechul memandang dongsaengnya dengan heran. Ada-ada saja.

“Kalau tidak ada yang mendekatimu, bagaimana kau bisa punya teman? Namchin?”

“Ah aku belum mau punya namchin, aku hanya ingin serius dengan kuliahku” sahut Yoona.

“Tapi kau jangan berpakaian seperti ini! Kau tidak bawa baju ganti?”

“Anhi”

“Kalau begitu ikut aku! Kau harus ganti baju!” Heechul menyalakan mesin mobilnya

“Kemana? Tapi Oppa aku harus mencari pekerjaan!”

“Pekerjaan? Yah Yoong! Apalagi yang kau pikirkan? Kalau Appa tahu kau bekerja, ia akan marah besar!”

Yoona diam saja mendengar perkataah Heechul. Mereka adalah anak dari seorang pengusaha yang sukses, pemilik jaringan perhotelan dan perbelanjaan yang terkemuka di Korea. Saat Heechul, kakaknya memilih untuk lebih menekuni karirnya di bidang fashion, Orangtua mereka sangat marah. Heechul sampai harus merasakan pergi dari rumah. Yoona yang kasian dengan Oppanya, berjanji pada Tuan Kim kalau ia yang akan menggantikan posisi Heechul di perusahaan. Hal itu sedikit melegakan orangtuanya, dan akhirnya mereka mau menerima Heechul kemabali, walaupun hubungan mereka masih belum terlalu akur.

“Kalau begitu jangan sampai mereka tahu”

“Apa? Tapi—

“Oppa.. aku hanya ingin mencoba bekerja, tenang saja aku tidak akan mengingkari janjiku pada Appa. Oppa tidak usah khawatir”

Heechul hanya bisa menghela napas panjang.

“Oppa harus membantuku mencari pekerjaan”

“Apa?” Heechul menoleh pada dongsengnya dengan terkejut.”Kenapa aku harus membantumu?”

“Aku kan sudah menggantikan tugas oppa, jadi anggap saja ini sebagai balas budi oppa padaku” Yoona tersenyum licik.

“Aishh kau ini. Belum juga kau menggantikan Appa, sudah besar kepala” Heechul hanya mengomel pada dongsaengnya yang tertawa dengan penuh kemenangan.

***

“Lelah sekali…” Sooyoung mengurut kakinya yang pegal-pegal karena sudah lama berjalan. Ia sekarang sedang duduk di salah satu kursi di taman.

“Kenapa sulit sekali mencari pekerjaan disini. Kenapa banyak toko yang mencari seorang namja, memangnya teoja tidak bisa melakukan pekerjaan seperti mereka apa” Sooyoung mengeluh pada dirinya sendiri.

Ia merogoh handphone di saku celananya. Hanphone itu adalah salah satu benda yang berhasil ia selamatkan saat kebakaran karena ia langsung memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Beruntung tas itu tidak tertinggal saat ia pingsan.

“Aku belum menghubungi Umma.. bagaimana kalau ia tahu aku sekarang terlantar seperti ini..” Sooyoung menmandangi layar handphonenya dengan sedih.

Tiba-tiba benda di tangannya itu bergetar. Di layarnya terlihat panggilan dari seseorang. Minho.

Dengan ragu Sooyoung menekan keypad handphonenya.

“Yeobose—“

“Noona! Bagaimana kabarmu? Bagaimana di Seoul? Kau baik-baik saja kan? Bagaimana kampusnya? Kau tinggal di mana?” Minho memberondong Sooyoung dengan pertanyaan.

“Yah! Minho, bagaimana Noona menjawab kalau kau terus bertanya?” Namja di seberang sambungan hanya tertawa kecil.

“Noona baik-baik saja. Sekarang Noona sudah ada di Seoul. Bagaimana keadaanmu disana? kalian baik-baik juga kan?”

“Ne. Kami baik-baik saja. Ada Umma  disini, Noona mau bicara?” tanpa menunggu jawaban Sooyoung, Minho langsung menyerahkan handphone ke Ummanya.

“Sooyoungie?”

“Ne, Umma” Suara Sooyoung bergetar karena menahan tangisnya. Ia sangat merindukan keluarganya. Di kota Seoul yang luas ini, ia tidak punya siapapun sebagai tempat untuknya bersandar dan berbagi masalah yang sedang dihadapinya sekarang.

“Kau baik-baik saja kan?”

“Ne….” Sooyoung menjawab lirih.

“Sooyoungie, apa kau menangis? Ada apa?” Ummanya khawatir.

“Gwenchannayo.. aku hanya merindukan kalian..”

“Kami juga meindukannmu. Kau sudah punya tempat tinggal kan di sana?”

“N-Ne…”Sooyoung terpaksa berbohong. “Nyonya Choi dan keluarganya menerimaku dengan baik” Sooyoung berusaha keras agar tidak menangis.

“Syukurlah.. Umma lega sekali. Semoga kuliahmu juga lancar..”

Sooyoung meneteskan airmata. Tidak pernah dalam hidupnya, ia berbohong kepada Ummanya, satu-satunya wanita yang sangat ia sayangi di dunia.

“Umma.. mianhe.. aku harus pergi sekarang. Nanti aku akan menelpon lagi..” ujar Sooyoung.

“Baiklah.. jaga kesehatanmu Sooyoungie…”

Sooyoung mengakhiri telepon dengan segera. Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Sambil menelungkupkan wajah pada kedua lututnya, ia menangis terisak. Ia merasa sendirian dan sangat kesepian.

Sooyoung tidak menyadari saat seseorang duduk di sampingnya. Namja itu memandang Sooyoung dengan kasihan.

“Soo-ah.. sudah jangan menangis lagi….” namja itu menepuk pundak Sooyoung dengan lembut.

Sooyoung yang sedang menunduk sontak menoleh ke sumber suara.

“Nu-nugayo? Kenapa kau tahu namaku?” ujarnya seraya menjauhkan diri dari orang disampingnya.

“Ini aku” namja itu kemudian membuka hoodie-nya. “Kim Junsu”

***

“Kita mau kemana?” tanya Yoona pada Heechul yang sedang mengemudi mobil.

“Choi’s Restaurant”

“Choice Restaurant?”

“Choi’s. C-H-O-I-S restaurant artinya restoran milik Choi. Itu adalah restoran temanku. Dia baru merenovasi restorannya”

“Oh…” Yoona mengangguk paham. Mulutnya tidak berhenti mengunyah makanan kecil yang dibelinya di mall barusan. Ia sudah berganti baju, Oppanya membelikan pakaian baru untuknya di mall karena tidak tahan dengan penampilan Yoona. Ia juga membawa Yoona ke salon untuk mengurus rambutnya. Yoona sempat menolak, tapi Heechul mengancam tidak akan membantunya. Ia pun menurut saja.

Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah restoran yang cukup besar dan bergaya modern. Heechul segera berjalan menuju bagian belakang restoran, tempat para karyawan berkumpul. Yoona hanya mengikuti dari belakang.

Seorang namja tampak sedang berbicara kepada sejumlah karyawan berpakaian seragam mengenai beberapa hal. Ia tampak serius, namun saat seseorang merangkul pundaknya dari belakang, wajahnya langsung berubah santai.

“Hey.. Heechul! Kapan kau datang?!” Namja itu balas merangkul.

“Baru saja. Wah.. restoranmu semakin maju sepertinya” ujar Heechul sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran.

“Ah tidak, aku hanya merenovasi beberapa bagian”

“Merenovasi maksudmu memperbesar dan memperluas kan?”

Seunghyun tersenyum saja mendengar pertanyaan retorika Heechul. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang yeoja yang tampak berdiri dengan canggung di belakang Heechul. Yoona membungkuk pelan saat pandangan mata mereka bertemu.

“Yoong kemari. Kenalkan, ini teman Oppa, Choi Seunghyun” ujar Heechul sambil menarik lengan adiknya agar maju.

Mereka berdua bersalaman.

“Choi Seunghyun”

“Im Yoona”

***

“Kau Junsu? Bunny Junsu?” Sooyoung menunjuk wajah Junsu.

Junsu hanya memandang kesal. Yeoja di depannya ini tidak sopan sekali, dari dulu tidak pernah mau memanggilnya oppa, malahan mengejeknya dengan memanggil ‘Bunny’. Nama itu di dapatnya saat ia dan Eunhyuk masih SMP, saat itu Sooyoung melihatnya memakai bando berbentuk telinga kelinci berwarna pink. Ia terpaksa memakainya sepanjang hari karena kalah bersaing dengan Eunhyuk.

“Iya. Ini aku. Siapa lagi?”

“Bunny-ah!” Sooyoung memeluk Junsu. Ia senang sekali bertemu dengannya.

Junsu hanya mendengus kesal. “Apa yang kau lakukan di Seoul Soo? Dan kenapa kau tadi menangis?”

“Aku-aku seharusnya kuliah.. tapi… aku mendapat musibah”

“Musibah? Apa yang terjadi?” tanya Junsu pada yeoja yang masih menangis.

Sooyoung menceritakan kejadian yang dialaminya, mulai dari tujuannya ke Seoul, sampai kebakaran yang dialaminya sehingga ia harus memotong rambutnya. Junsu mendengarkan dengan seksama.

“Aku ikut prihatin Soo…” Junsu memandang Sooyoung kasihan. Pantas saja Sooyoung terlihat seperti orang kebingungan saat ia mengikutinya tadi.

“Bunny-ah, darimana kau tahu aku ada di sini? Kau hebat sekali bisa mengenaliku”

“Sebenarnya aku mengikutimu dari kampus tadi, saat kau berkelahi. Kebetulan aku juga kuliah di sana. Dan kau tahu.. sebenarnya kita sudah pernah bertemu sebelumnya, itu saat kau menabrak namja yang bernama Micky”

Sooyoung mengingat-ingat kejadian mana yang dimaksud Junsu.

“Yah! Jadi kau teman namja itu? kenapa kau tidak langsung menyapaku?” seru Sooyoung.

“Hehe.. Mianhe aku tidak memperhatikanmu, aku saat itu sedang lelah. Lagi pula kau tampak berubah, lebih cantik dengan rambut panjangmu seperti kemarin” puji Junsu, berharap yeoja di sampingnya tidak jadi marah.

Sooyoung hanya tertegun, mengingat kembali rambut kebanggaannya yang sekarang sudah tidak tersisa.

“Gwenchannayo?” Junsu berkata pada yeoja yang mendadak diam.

Sooyoung mengangguk. “Bunny-ah, kenapa kau tidak memberi kabar pada Kangin oppa? Ia sangat khawatir padamu. Ia bahkan berpesan agar aku mencarimu di Seoul. Kau pergi hampir 5 tahun lamanya.”

“Ah itu.. Nanti aku akan menghubunginya”

“Kau ini tidak dewasa sekali, masa meninggalkan desa hanya karena cintanya di tolak..”

“Hey darimana kau tahu tentang itu?” Junsu heran bercamppur malu.

“Aishh itu rahasia umum. Kau pergi karena Hyo unnie lebih memilih Eunhyuk kan?”

“Tidak! Itu tidak benar!” Junsu menolak.

“Hyo unnie juga menitipkan permintaan maafnya padamu”

Junsu diam saja. Ia sebenarnya sudah melupakan kejadian itu.

“Anhiyo, ia tidak perlu minta maaf..” ujarnya kemudian.”sudahlah, nanti saja kita bahas soal itu. sekarang kau mau kemana?”

“Mollayo. Aku belum menemukan tempat tinggal” jawab Sooyoung lirih.”Bunny, kau bisa membantuku mencarinya kan?”

“Tentu saja!”

***

“Tidak cocok juga?”

Sooyoung menggeleng. Junsu menghela napas panjang, ia sudah mengantar Sooyoung berkeliling kota Seoul untuk mencari tempat tinggal, namun sepertinya tidak ada yang cocok dengan keinginan yeoja itu. Terlalu mahal, begitu katanya saat Junsu mengantarnya ke rumah sewaan yang cukup luas. Terlalu sempit, terlalu jauh… saat ia membawa Sooyoung ke rumah sewaan yang cukup murah. Yeoja memang benar-benar cerewet.

“Kalau begini bagaimana?”

Sooyoung hanya mengangkat bahu. “Bunny-ah aku lapar…”

“Lapar?” Junsu baru sadar mereka belum makan dari tadi siang karena sibuk mencari rumah sewaan. “Kalau begitu ayo kita pergi makan”

Mereka sampai di sebuah rumah makan kecil. Sooyoung segera memesan makanan dengan semangat, meninggalkan Junsu yang melongo melihat daftar pesanan Sooyoung. yah, seharusnya ia ingat kalau yeoja itu adalah Shikshin.

“Gomawo, silahkan menunggu” pelayan rumah makan itu tersenyum manis pada Sooyoung. Sooyoung balas tersenyum, tapi pelayan itu malah terus memandanginya, bahkan sambil berjalan menjauhi meja mereka, ia sempat-sempatnya menoleh dan tersenyum pada Sooyoung.

“Hey Soo. Kau lihat pelayan itu kan? Dia aneh”

“Apanya? Dia hanya pelayan yang ramah” ujar Sooyoung sambil menyelonjorkan kakinya. “Ahh lapar sekali.. makanan cepatlah datang..” Sooyoung mengelus-ngelus perutnya.

“Kau ini… kenapa bertingkah seperti itu..” ujar Junsu.”Seperti namja saja..”

…………………………….

Tiba-tiba Junsu mendapatkan ide. Ia tahu sekarang dimana Sooyoung bisa tinggal.

“Soo-ah, aku tahu tempat dimana kau bisa tinggal!!” ujarnya antusias.

“Geure? Tempatnya bagus tidak?”

“Tentu saja!”

“Murah tidak?”

“Bukan hanya murah! Tapi Gratis!”

“Wooaaaa.. kalau begitu kau harus mengantarku kesana! Tapi.. tunggu! Itu tempat orang baik-baik kan?” tanya Sooyoung curiga. Dimana di dunia ini tempat yang bagus dan bisa ditinggali dengan gratis.

“Kau kira aku ini bukan orang baik-baik hmm?”

“Tampangmu meragukan..” jawab Sooyoung sambil memandang Junsu curiga. “Siapa tahu saja selama di Seoul kau….”

“Yah! Kau!” Junsu gemas dengan Sooyoung. “Sudahlah! Kau mau atau tidak?”

“Tentu saja!” jawab Sooyoung sambil tertawa.

“Tapi ada syaratnya…”

Junsu mendekatkan wajahnya ke Sooyoung

“Kau harus menyamar menjadi namja”

***

“Kemari kau maknae kurang ajar!” Yoochun berteriak sambil berlari mengejar Changmin. Ia beru saja keluar dari kamar mandi saat melihat namja itu di kamarnya dan mengambil salah satu barang kesayangannya… yang tidak lain adalah boneka Minnie Mouse…….

“Apa? Kau mau ini? Ambil saja kalau bisa!” Changmin berlari sambil menenteng barang hasil temuannya.

“Awas kau yah!”

“Dah.. Micky oppa…” Changmin mengolok-ngolok Yoochun. Ia menemukan boneka itu di salah satu lemari pakaian Yoochun dan sangat heran, kenapa namja itu menyimpan barang yang seharusnya milik yeoja. Memang sih ia punya banyak hadiah dari pacarnya, tapi boneka ini sepertinya spesial. Changmin tidak pernah melihatnya, tentu saja, karena ia disimpan dengan rahasia oleh Yoochun.

Mereka terus berlarian di sekeliling ruang tamu. Yunho yang melihatnya hanya bisa berteriak kesal. Tapi dua orang itu tidak juga berhenti.

“Hyung tangkap!” Changmin melempar boneka itu ke arah Yunho. Ia dengan sigap menangkapnya. Yoochun yang sudah berhasil menangkap Changmin segera berbalik mengejar Yunho. Panik, yunho pun ikut berlari.

“Lempar kemari Hyung!” Changmin berteriak saat Yunho sudah hampir tertangkap. Yunho pun melempar boneka itu, tapi ia melemparnya dengan acak karena sudah hampir tertangkap. Changmin berlari mengikuti kemana arah boneka itu melambung.

—–

“Wah.. serius kau tinggal disini?” tanya Sooyoung saat melihat rumah di hadapannya. Rumah itu bertingkat bergaya minimalis itu terlihat sangat bagus.

“Iya begitulah.. sekarang kau percaya?”

“ya.. ya.. ya…” Sooyoung segera melangkah menuju pintu masuk rumah itu. Junsu mengikuti dari belakang.

“Tunggu! Ingat apa yang sudah kita bicarakan tadi. Kau adalah namja dan namamu adalah Choi Soonam!” Junsu memperingatkan.

“Kau membuatku menjadi takut..  semoga saja mereka tidak tahu kalau aku adalah yeoja..”

“Bukan hanya itu, masalahnya apakah mereka mau menerimamu tinggal disini..”

“Aisshh bagaimana kalau tidak?”

“Kita coba saja dulu” Junsu membukan pintu rumah dan ternyata tidak dikunci “Ayo masuk”

“hey.. apa maksud tulisan di depan pintu ini?” Sooyoung menunjuk stiker bertuliskan. ‘NO WOMAN ALLOWED’

“Panjang ceritanya” Junsu melangkah masuk.

Sooyoung melangkah masuk, mengikuti Junsu. tapi belum sempat ia mengagumi rumah yang luas itu tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ribut beberapa orang namja.. dan…

“Hap!”

Sooyoung  spontan menangkap benda yang melayang ke arahnya dan seorang namja langsung menabraknya. Mereka berdua jatuh ke lantai. Ketiga orang namja lainnya hanya bisa memandang ke arah mereka dengan ekspresi terkejut.

Sooyoung masih memejamkan matanya, ia mengira kepalanya sekarang pasti sudah membentur lantai karena di tabrak namja barusan. Tapi tidak, ia tidak merasakan sakit apapun.  Perlahan, ia membuka matanya dan mendapati dirinya sedang berada di pelukan seorang namja. Kepalanya tepat berada di bawah dagu namja itu. Sooyoung mendongak, ia melihat seorang namja yang sedang meringis kesakitan, matanya terpejam.

wajah namja ini manis sekali.. bulu matanya tebal dan hidungnya mancung.. belum lagi bibirnya yang tipis.. dan…’

“Sampai kapan kau memandangiku seperti itu?”

Suara namja itu mengagetkannya. Ia bergegas bangkit dari badan namja yang sekarang mengelus kepalanya karena terbentur lantai.

“Gwenchannha?” ujar Junsu pada Sooyoung. Yeoja itu mengangguk.

“Hey Junsu! Sudah jelas kan yang kepalanya terbentur itu aku! Kenapa malah menanyakan keadaannya!” Changmin berdiri sambil memarahi Junsu.

Sooyoung hanya tertunduk takut.

“Kemarikan milikku!” Yoochun mengambil boneka yang dari tadi masih digenggam Sooyoung. yeoja itu spontan menoleh dan terkejut saat mendapati Yoochun hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Wajahnya seketika memerah, ia segera menunduk lagi

Aigooo bagaimana ini.. belum apa-apa aku sudah seperti ini’ batin Sooyoung.

“Junsu siapa dia?” Yunho menghampiri.

“Ya, siapa orang ini? Kenapa kau bawa ia kemari?” Tanya Changmin.

Junsu menarik napas panjang…..

Perkenalkan, namanya Choi Soonam

TO BE CONTINUED…

Akhirnya publish juga lanjutannya..

Kelamaan yah? Mianhe… hehehe..

Komennya jangan lupa ya reader…

Iklan