Tag

, , , , , , , , ,

Chapter 3

OOTBBy: Sasha_mad

Api.. dimana-mana yang terlihat hanyalah api. Sooyoung berteriak meminta pertolongan tapi semua penjuru tempat itu sudah terbakar. Ia berusaha mencari jalan keluar, namun tidak nisa menemukan satu pun. Ia masih berteriak meminta pertolongan, suaranya sudah serak karena terlalu banyak berteriak. Ia terduduk dan menangis di tengah ruangan yang terbakar. Ketika ia sudah hampir putus asa, tiba-tiba sepasang tangan memegang lengannya dan membantunya berdiri. Orang itu kemudian menggendongnya dan menyelamatkannya keluar dari ruangan yang terbakar itu..

“Kau siapa?” tanya Sooyoung.

“Aku bukan siapa-siapa” ujar namja itu sambil menatap Sooyoung.

Benar-benar namja yang sangat tampan… batin Sooyoung dalam hati. Tapi kemudian namja itu bertingkah aneh, ia menjatuhkan Sooyoung dari gendongannya dan segera pergi. Sooyoung hanya meringis kesakitan, ia melihat namja tampan itu pergi menjauh.. tiba-tiba semua di sekitarnya terasa berguncang. Sooyoung merasa badannya juga ikut berguncang dengan hebat. Ia berteriak meminta namja itu kembali dan menolongnya..

“Hei kau! Tunggu!” Sooyoung berteriak sambil berlari.

“Hei namja tampan tunggu aku!” ia berteriak lagi.

…………………………………………………….

“Sooyoung-ssi, Sooyoung-ssi bangun..”

Sooyoung mendengar suara seorang namja yang sedang menyuruhnya bangun sambil mengguncang tubuhnya pelan. Ia membuka matanya dan mendapati namja tampan yang ada di mimpinya tadi. ia tersenyum dan bergumam pelan..

“namja tampan…”

“Sooyoung unnie apa yang kau katakan barusan?” tiba-tiba wajah Jinri muncul dengan jelas di depan mata Sooyoung yang masih berbaring di kasur. Yeoja itu terkejut dan segera terduduk. Ternyata ia tadi bermimpi dan sekarang sudah bangun.

“Jinri-yah… dimana ini?” tanya Sooyoung.

“Unnie, ini di rumah salah satu keluarga kami. Unnie lupa ya?” ujar Jinri sambil tersenyum.

Sooyoung memijit kepalanya yang masih agak pening sambil mengingat-ingat kejadian tadi malam. Kebakaran itu.. akhirnya ia ingat semuanya.

“Masih pusing?” namja di samping Sooyoung akhirnya buka suara.

Sooyoung segera menolah, namja tampan itu sekarang ada di sampingnya.

“Si..siwon-ssi.. “ Sooyoung tergagap. Ia baru sadar kalau namja itu ada disana.

“Iya, unnie. Tadi Siwon oppa hendak meilhat keadaanmu. Jadi ia kemari” jelas Jinri.

Siwon hanya tersenyum, “Gwenchanna?” ujarnya.

“Oh ne, gwenchannayo” Sooyoung menjawab sambil menunduk. Ia malu mengingat apa yang barusan ia katakan saat ia bangun tadi. ia berdoa semoga Siwon tidak mendengar perkataannya.

“unnie tadi mimpi buruk ya? Tadi kulihat unnie tampak tidak tenang saat tidur” tanya Jinri.

“Ya, apa kau mimpi buruk? Kudengar tadi kau mengatakan sesuatu” Siwon juga bertanya.

Sooyoung panik, ia berharap mereka berdua tidak mendengar apa yang dikatakannya tadi.

“A-aniyo, aku hanya…” Sooyoung bingung mau menjawab apa. Ia menggaruk-garuk kepalanya. “aku tidak ingat…”

“Tidak ingat? Hmm.. sudahlah kalau begitu, ayo kita turun. Umma sudah menyiapkan makanan untuk kita” ujar Siwon sambil beranjak meninggalkan dua yeoja itu. setelah sosok Siwon lenyap dari pintu, Jinri segera bertanya pada Sooyoung.

“Unnie, tadi bermimpi apa? Kenapa unni tadi berkata ‘namja tampan.. jangan pergi’ seperti itu?” tanyanya dengan wajah polos.

Sooyoung hanya ternganga. Jadi Jinri mendengarnya. Lalu Siwon? Tidak mungkin ia tidak mendengarnya. Sooyoung merasa hendak melompat ke laut karena malu.

“Unnie, kenapa diam?” Jinri melambai-lambaikan tangan di depan wajah Sooyoung yang tampak shock. Wajah Sooyoung seketika berubah, ia mengambil bantal dan membenamkan wajahnya.

“Pabo kau Sooyoung, kenapa berkata seperti itu!” Ia berkata pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya, wajahnya masih ia terbenam pada bantal.

“Unnie, unnie kenapa?” Jinri cemas melihat kelakuan aneh yeoja itu.

“Tidak apa-apa Jinri-yah” ujar Sooyoung. ia mengangkat kepalanya dari bantal.

“Umm.. unnie mau mandi dulu?” tanya Jinri. Ia memperhatikan keadaan Sooyoung, yang menurutnya agak sedikit berantakan.

Sooyoung berdiri dari kasurnya dan menghampiri kaca yang ada di lemari pakaian. Ia memandang sosok yeoja di cermin yang tidak lain adalah dirinya sendiri. ia kembali shock. Bayangan seorang yeoja di cermin itu benar-benar tampak berantakan. Terutama rambutnya yang acak-acakan. Di beberapa bagian tampak kusut menggumpal karena terbakar.

“Rambutku… rambutku…” Sooyoung memegang rambur di kepalanya. Ia sangat terkejut dan sedih melihat keadaan rambutnya. Rambutnya yang panjang dan indah sekarang sudah tidak ada lagi. Ia terduduk di lantai.

“unnie.. mianhe… rambut unnie memang terbakar karena kebakaran tadi malam. Unnie sempat pingsan di dalam rumah itu kan? Sepertinya karena itu rambut unnie terbakar..” Jinri menghampiri Sooyoung yang menangis.

Sooyoung hanya mengusap air matanya. Ia adalah yeoja yang kuat dan jarang sekali menangis. Tapi untuk sekarang ini, entah kenapa ia tidak bisa menahannya. Ia sangat sedih.

“unnie…”

“Jinri-yah.. dimana kamar mandinya? Aku mau mandi dulu” ujar Sooyoung sambil berdiri.

“Di lantai bawah dari dapur sebelah kiri. Unnie tidak apa-apa?” tanya Jinri. Ia sedikit khawatir.

“Unnie baik-baik saja. Hanya terkejut dengan rambut baru unnie ini” ujar Sooyoung sambil berusaha tersenyum. Ia harus kuat, hanya rambut yang terbakar. Ia masih harus bersyukur bukan wajahnya yang terbakar.

“Oh ya Jinri, apa kau tahu siapa yang menyelamatkanku dari kebakaran tadi malam?”

“Aniyo, unnie. Aku tidak kenal dengannya. saat itu aku juga sangat panik, sampai-sampai tidak sempat berterima kasih padanya” jawab Jinri.

“Apa kau tahu namanya?” tanya Sooyoung lagi.

Jinri menggeleng lemah “mianhe.. aku tidak menanyakannya”

Sooyoung menghela napas kecewa. Tampaknya namja itu memang dikirim Tuhan hanya untuk menyelamatkannya. Mimpinya tadi, sepertinya karena ia masih sedikit trauma dengan kebakaran tadi malam. Dan kenapa justru wajah Siwon yang ada dalam mimpinya? Padahal tidak mungkin namja itu yang menyelamatkannya. Mungkin ia terlalu terpesona dengan namja itu saat pertama kali melihatnya tadi malam sampai-sampai terbawa mimpi.  Ia jadi teringat lagi dengan kejadian tadi, ia memanggilnya namja tampan, memalukan sekali. Lebih parahnya lagi, Siwon juga melihat penampilan bangun tidurnya dengan rambut mengerikan seperti ini. Ia melamun dan baru tersadar saat Jinri berkata,

“Tapi namja yang menyelamatkan unnie tadi malam sangat tampan dan juga tinggi!” ujar Jinri.

“Geure? Kalau begitu aku beruntung sekali” ujar Sooyoung sambil tersenyum. Tampan dan tinggi. Hanya itu yang bisa diingat oleh Jinri. Bila Sooyoung bisa bertemu lagi dengannya, itu adalah keajaiban.

***

Junsu baru saja keluar dari kamarnya. Ia menghela napas panjang, melihat kondisi rumah yang sangat berantakan. Sepatu, helm, bungkus makanan, jaket, kaus kaki, sampah bertebaran dimana-mana. Namja-namja yang tinggal bersamanya benar-benar tidak memiliki keinginan untuk merapikan rumah itu. Yoochun, sang pemilik rumah tidak akan mungkin mau membersihkan semuanya. Anak itu pemalas sekali, mungkin karena dari kecil ia memang tidak terbiasa merapikan semuanya sendiri. Yunho, terkadang membantu merapikan rumah tetapi sebenarnya orang yang lebih sering membuatnya berantakan. Kebiasaannya menaruh barang sembarangan tidak juga hilang. Dua orang lain, Jaejoong dan Changmin adalah dua orang yang paling perduli terhadap kebersihan. Terutama Jaejoong, ia tidak tahan jika melihat rumah berantakan. Ia yang sering membersihkan rumah dan membagi tugas pada namja lain. Yoochun sering protes jika disuruh bersih-bersih dan sering sekali mengusulkan agar mereka punya pembantu. Tapi Jaejoong tidak pernah menyetujuinya. Kenapa? Karena pembantu yang dibawa oleh Yoochun adalah yeoja-yeoja cantik yang masih muda dan hobi berdandan. Pastinya yeoja itu tidak bisa mengurus rumah, paling-paling ia bekerja disana hanya untuk mengurus Yoochun. Pernah suatu ketika Yoochun membawa seorang yeoja, yang katanya akan membereskan rumah, tapi pada kenyataannya pekerjaan yeoja itu hanya pacaran saja dengan Yoochun. Hal itu membuat Jaejoong marah besar, selain karena rumah yang tidak kunjung dibersihkan, ternyata yeoja itu juga mencuri sebagian baju dan barang-barang mereka. Dan mulai saat itu Jaejoong memberlakukan peraturan baru di rumah. NO WOMAN ALLOWED. Tidak ada yeoja yang diperkenankan masuk ke dalam rumah. Yoochun mungkin pemilik rumah ini, tapi penguasa sebenarnya adalah Jaejoong. Bahkan Yunho tidak bisa berbuat apa-apa jika harus menghadapi kemarahannya.

Apa boleh buat, Junsu  mulai memunguti sampah yang bertebaran di sekeliling rumah sementara namja lainnya masih tertidur.

“Aishh berantakan sekali!” Junsu mengumpat sendiri. ia perlu bantuan. Ia ingin membangunkan Changmin. Tapi ia ragu. Ia masih kesal dengan namja  itu. tadi malam saat ia membukakan pintu, tanpa disangka ia langsung mendapat pelukan dari Changmin. Tentu saja bukan karena namja itu rindu apalagi suka dengannya. walaupun ia memeluk sambil berkata “Hyung, aku merindukannmu!”, tapi itu semata-mata karena ia ingin berbagi dengan Junsu. Berbagi, yah berbagi kotoran yang menempel di seluruh pakaiannya! Benar saja setelah dipeluk namja itu, pakaian Junsu ikut kotor, belum lagi bau benda terbakar. Ia terpaksa harus mandi lagi gara-gara tingkah konyol Changmin. Orang itu benar-benar senang mengganggunya. Junsu sempat terheran-heran dengan sikap Changmin di kampus yang berbeda 180 derajat dengan di rumah. Jika di kampus ia adalah namja yang cool pendiam dan terkesan sangat pintar, di rumah adalah kebalikannya. Ia tidak bisa diam, berisik, suka mengganggu dan kadang bertingkah bodoh. Lebih-lebih lagi ia suka mem-bully hyungnya yang lain. Dan target favoritnya, tentu saja adalah Junsu.

Junsu mengurungkan niatnya meminta bantuan Changmin. Akhirnya ia hanya membuang sampah dan membereskan beberapa barang yang bertebaran di lantai. Ia pergi ke dapur dan membuat kopi. Sambil meminum kopi di teras belakang, ia berpikkir apa yang akan dilakukannya hari ini. Ia teringat janjinya dengan Yoochun tadi malam. Namja itu benar-benar womanizer. Bisa-bisanya ia memiliki rencana untuk mendapatkan data mahasiswa baru hanya agar yeoja-yeoja malang itu terkesan pada Yoochun karena ia mengetahui profil mereka dengan baik. Dasar Cassanova. Suatu saat ia akan terkena batunya, pikir Junsu.

Berbicara tentang rencana mereka, Junsu kembali teringat kejadian saat Yoochun menabrak seorang yeoja. Saat itu, ia tidak terpikir apa-apa. Tapi entah kenapa  sekarang ia merasa wajah yeoja yang kemarin dilihatnya terasa sangat familiar. Ia seperti mengenalnya dengan baik.

“Mungkinkah dia… tapi sepertinya bukan… itu kan hampir lima tahun yang lalu..” Junsu berbicara sendiri.

“kalau benar memang itu dia.. apa yang dilakukannya di Seoul. Tidak mungkin untuk mencariku kan..? apa yang dilakukannya di kampus kami…. Kampus…kampus..” Junsu mengulang kata itu. akhirnya ia paham. Apa yang akan dilakukan seseorang di kampus? Kuliah! tentu saja!

Ia harus memastikannya. Junsu segera berlari menuju ke kamar Yoochun sambil berteriak,

“YOOCHUUNNNN BAANGGUNNNNN!!!!!”

***

“Kau yakin tidak ingin tinggal disini sementara waktu?”

Nyonya Kim, bertanya pada Sooyoung sambil terus menggerakkan gunting di tangannya. Ia sedang merapikan rambut Sooyoung. mereka berada di halaman belakang rumah keluarga Choi. Nyonya Kim adalah ibu dari Siwon. Ia menikah dengan Tuan Choi, ayah Siwon yang meruupakan kakak dari ayah Jinri.

“Ne, ahjumma. Aku harus pergi karena masih banyak yang perlu kulakukan” ujar Sooyoung. ia memang masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, harus pergi ke universitas dan tentu saja harus mencari tempat tinggal baru. Sebenarnya ia ingin tinggal di sana karena keluarga Choi sangat baik dan hangat padanya, tapi ia tidak enak jika harus merepotkan keluarga itu. Rumah mereka memang cukup luas untuk menampung keluarga Jinri dan dirinya tapi sekali lagi, ia bukan siapa-siapa di keluarga itu, hanya seorang pendatang dan kebetulan menyewa kamar di rumah yang baru terbakar tadi malam.

“Tinggallah sementara waktu sampai kondisimu pulih” Nyonya Choi, ibu Jinri menambahkan.

“Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Ahjumma jangan khawatir” Sooyoung berusaha menyakinkan Nyonya Choi.

“Ini semua gara-gara kau! Siapa yang menyuruhmu merebus air dengan teko listrik dan meninggalkannya tidur hah!” Nyonya Choi mengomel pada Tuan Choi, ayah Jinri.

“Aku tidak meninggalkannya tidur! Aku ketiduran!” Tuan Choi berusaha membela diri “Salahmu sendiri tidak menyediakan air panas untukku!”

“Apa? Kenapa jadi menyalahkanku?”

“Tentu saja! Itu kan tugasmu sebagai seorang istri!”

“Tapi hanya merebus air saja apa kau tidak bisa melakukannya sendiri!”

Mereka berdua kembali bertengkar. Sudah tidak terhitung ini pertengkaran mereka yang keberapa sejak tadi malam.

“Umma, appa sudahlah jangan bertengkar terus” Jinri datang sambil memegang sebuah cermin “Rumah kita kan sudah diasuransikan, tidak perlu khawatir”

“Kau dengar itu? untung saja Jinri memberitahukanku agar mengasuransikan rumah 6 bulan yang lalu. Kalau tidak kita bisa kehilangan semuanya!” nyonya Choi kembali mengomel.

“Lalu kenapa kau masih terus mengomel? Bisa tidak kau diam sebentar?” Tuan Choi balas memarahai Nyonya Choi.

Jinri hanya geleng-geleng kepala melihat orang tuanya yang tidak juga berhenti bertengkar.

“Bagaimana Sooyoungie, apa sudah cukup?” Nyonua Kim bertanya pada Sooyoung saat Jinri meletakkan cermin di depan wajah yeoja itu.

Sooyoung memandang tampilan wajahnya sekarang. Tidak ada lagi rambut panjang yang lebat, sekarang rambutnya sangat pendek, hampir menyerupai seorang namja.

“Aku sudah berusaha agar tidak memotong rambutmu terlalu banyak, tapi di beberapa bagian rambutmu terbakar sampai hampir mendekati kulit kepala jadi aku meratakannya. Tidak mungkin aku membiarkan rambutmu sebagian panjang sementara bagian yang lain sangat pendek, benar kan?” jelas Nyonya Kim.

Sooyoung hanya tersenyum kecil. “Tidak apa-apa ahjumma,aku mengerti. Gamshahamnida”

“Unnie tetap terlihat cantik kok” ujar Jinri.

“Gomawo Jinri”

Sebenarnya Sooyoung tidak terlalu perduli ia cantik atau tidak. Ia hanya menyayangi rambutnya. Rambut itu adalah penanda bahwa ia seorang yeoja. Orang-orang disekelilingnya dulu saat ia masih SMP, seringkali tidak mengenali bahwa ia adalah seorang yeoja karena rambutnya yang selalu pendek dan gaya berpakaiannya yang tomboy. Ia tidak mempermasalahkannya, tetapi kadang ia merasa kesal juga jika mendengar orang-orang yang membicarakannya. Karena ia tidak bisa mengubah gaya berpakaiannya seperti yeoja lain pada umumnya, ia lebih memilih memanjangkan rambutnya saja agar orang-orang tahu bahwa ia adalah seorang yeoja. Lebih hemat dan praktis, tidak perlu membuang uang untuk membeli baju baru atau pergi ke salon untuk memotong rambutnya.

“Ini beberapa pakaian untukmu. Kau yakin ingin memakainya? “ Siwon datang sambil memberikan beberapa lembar baju untuk Sooyoung.

“Ne, Gamshahamnida Siwon-ssi. Aku memang terbiasa memakai baju seperti ini”

“Tapi Sooyoungie, ini kan baju untuk namja” Nyonya Kim sedikit terkejut melihat baju yang baru diserahkan oleh Siwon. “Siwon, apa tidak ada baju yang lain?”

“Umma, anak umma kan namja dua-duanya. Baju yang lain tentu saja sama seperti ini” jelas Siwon.

“Oh ya, benar juga” Nyonya Kim manggut-manggut.”Oh ya, Siwon apa kau tahu dimana hyungmu sekarang?”

“Dia ada di restoran, katanya baru akan pulang jika restorannya sudah kembali normal”

“Anak itu, selalu sibuk bekerja. Kapan dia akan menikah dan memberikanku cucu..” ujar Nyonya Kim dengan kecewa.

Sooyoung hanya tersenyum mendengar keluhan Nyonya Kim. Ia belum bertemu dengan anak pertama keluarga tersebut. Beberapa fotonya memang terpajang di ruang tengah rumah itu, dan namja itu cukup tampan dengan matanya yang tajam. Tidak heran, lihat saja adiknya, Siwon yang benar-benar mempesona… Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa yang barusan ia pikirkan? Sooyoung, ingat kau masih punya banyak pekerjaan di kota ini. Jangan memikirkan hal-hal seperti itu, saat ini bukan waktu yang tepat.

“Apa unnie mau memakai baju ku? Ada beberapa pakaian yang masih bisa diselamatkan tadi malam. Badan kita kan tidak jauh berbeda” ujar Jinri, membuyarkan lamunan Sooyoung.

“Tidak usah Jinri-ah, bajumu juga banyak yang terbakar, kau lebih membutuhkannya” ujar Sooyoung. baju Jinri? Rok, blouse, motif, pink. Mian Jinri, Aku tidak akan mungkin memakainnya, batin Sooyoung.

Sooyoung berdiri dan menyingkirkan rambut yang bertebaran di bajunya. Ia pamit untuk mengganti baju yang telah diberikan oleh Siwon. Jinri mengikutinya dari belakang.

“Unnie yakin tidak ingin tinggal disini, keluarga Siwon oppa sangat baik lho..” Jinri berkata sambil mengikuti langkah Sooyoung.

“Aku tidak ingin merepotkan kalian, tidak apa-apa. Unnie memang harus pergi dari sini” jawab Sooyoung.

“Menurut unnie, Siwon oppa itu tampan atau tidak?” tanya Jinri tiba-tiba.

Sooyoung menghentikan langkahnya dan menghadap ke yeoja itu. ‘Ya tentu saja sangat tampan’ otaknya menjawab lebih dulu.

“Kenapa bertanya seperti itu?”

“Aniyo, hanya saja sebagian besar teman-temanku berkata seperti itu. setiap kali aku membawa mereka kemari, mereka sangat senang dan selalu berkata ingin tinggal disini saja. Tapi unnie malah menolak.. aneh… apa unnie tidak suka dengan Siwon oppa?”

Sooyoung hanya tertawa mendengar pertanyaan Jinri. Anak itu kadang-kadang memang polos.  Yang dikatakan teman-temannya memang benar, ia pun ingin tinggal di tempat ini, jika keadaan sekarang tidak seperti ini.

“Unni kenapa cuma tertawa?” kejar Jinri.

“Aku tertawa karena kau lucu sekali, Jinri-yah. Sekarang unnie mau ganti baju. Oke?”

Jinri mengangguk, tapi jelas ia masih tidah puas dengan jawaban Sooyoung.

***

Junsu mengetik sebuah nama di keyboard komputer dengan tergesa-gesa. Yoochun di belakangnya masih menguap sekali-kali dengan mata yang terlihat mengantuk.

“Junsu, apa yang kau cari sebenarnya? Kemarin ku ajak kesini kau mengomel, sekarang malah kau yang memaksaku kesini” ujar Yoochun.

“Jangan berisik, yang penting kan aku sudah menemanimu kesini” sahut Junsu sambil masih memperhatikan komputer yang berisi data-data mahasiswa baru. Matanya dengan teliti memeriksa setiap mahasiswi dengan nama yang berawalan huruf C.

“Cho.. Choi… Choi……. ini dia!” ujar Junsu setengah berteriak ia mengamati data yang baru di dapatnya.

“Ternyata memang benar dia.. lama sekali aku tidak bertemu dengannya..” gumam Junsu.

“Apa sih?” Yoochun ikut melihat ke layar komputer,tapi Junsu lebih dulu menutup jendela yang berisi data Choi Sooyoung.

“Tidak ada apa-apa. Aku sudah selesai, sekarang cepat ambil data yang kau perlukan lalu kita pergi dari sini!” ujar Junsu.

Yoochun hanya memandang namja itu dengan heran.

“Tunggu apa lagi? Ayo cepat!” paksa Junsu.

“Oke, oke!” ujar Yoochun. Tangannya dengan terampil segera memindahkan data itu ke dalam hard disk yang dibawanya.

***

Sooyoung sudah meninggalkan rumah kelurga Choi. Sedih juga rasanya meninggalkan keluarga itu, walaupun hanya semalam ia menginap di sana, tapi rasanya seperti mereka sudah mengenal dengan baik. Tujuan pertamanya sekarang adalah ke universitas. Ia akan berusaha meminta keringanan biaya kuliah, walaupun ia sedikit ragu akan berhasil. Kalau rencana  itu tidak bisa juga, ia akan meminta cuti saja dulu.

Ia berjalan dengan cepat, menyusuri kawasan yang padat dengan pertokoan. Di sepanjang jalan yang dilaluinya, ia melihat bayangan dirinya sendiri melalui kaca-kaca toko tersebut. Sampai di sebuah toko dengan kaca yang cukup lebar, ia berhenti. Ia mengamati penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak ada satu pun bagian dari pakaiannya yang bisa menunjukkan tanda bahwa ia adalah seorang yeoja. Topi, t-shirt dengan jaket dan celana jeans biru longgar dengan warna yang mulai pudar ditambah sepatu kets. Ia sekarang tampak benar-benar seperti namja.

“Hei, oppa mau mencoba minum kopi di cafe kami? Sedang ada penawaran khusus” seorang yeoja dengan pakaian khas pramusaji menyapanya sambil tersenyum.

“Siapa? Aku?” Tanya Sooyoung. ia agak bingung karena yeoja itu memanggilnya oppa.

“Ya, tentu saja” jawab yeoja itu lagi.

“Aniyo, aku tidak suka kopi” ujar Sooyoung.

“Ayo, sebentar saja” yeoja itu tiba-tiba menggandeng tangan Sooyoung. Sooyoung terkejut, spontan saja ia melepaskan tangan yeoja itu.

“Hei, apa-apaan ini!”

“Oppa, ayo mampir ke cafe kami” tiba-tiba seorang yeoja datang lagi dan menggandeng tangan Sooyoung yang satunya lagi.

“Sudah kubilang aku tidak mau!” Sooyoung segera melepaskan dirinya dari yeoja-yeoja itu.”Dan satu hal lagi, Aku bukan namja, tahu!” ujar Sooyoung kesal sambil bergegas pergi dari tempat itu.

Yeoja-yeoja tadi hanya berpandangan dengan heran sementara Sooyoung dengan langkah cepat menjauh dari mereka.

***

Junsu dengan hoodie dan kacamatanya berjalan mengitari kampus dengan harapan bisa bertemu lagi dengan yeoja yang dicarinya. Ia meninggalkan Yoochun yang sedang asyik mengobrol dengan yeoja-yeoja yang ditemuinya tadi. Namja itu kalau sudah bertemu dengan yeoja cantik tidak akan menghiraukan sekelilingnya, begitulah kelakuan Yoochun. Semua orang sudah tahu. Herannya, masih banyak saja yeoja yang suka dengannya.

Baru beberapa langkah menjauh dari Yoochun, ia berbalik. Namja itu sudah tidak ada di tempatnya, entah kemana ia pergi ikut bersama sekumpulan  yeoja yang dari tadi mengerubunginya. Tapi ia enggan melangkah karena di tempa Yoochun berdiri tadi ada beberapa orang yeoja yang sepertinya sedang bertengkar.

“Hei kalian semua! Memangnya apa salahnya? Kenapa kalian mengganggunya!” seseorang berkata dengan lantang. Dari suaranya terdengar seperti yeoja tapi dari cara berpakaiannya sama sekali tidak mirip dengan yeoja. Junsu mendekati tempat itu.

“Siapa kau? Teman orang aneh ini ya?” salah satu dari kumpulan yeoja itu membalas.

“Siapa yang kau sebut aneh heh? Kami ini manusia sama seperti kalian!” yeoja atau namja itu membalas dengan sangar.

“Sama seperti kami? Kalian berdua harusnya bercermin! Lihat tampang kalian. Menjijikkan! Yang satu penampilannya benar-benar out to date tapi berani-beraninya menggoda Yoochun kami, sementara kau sendiri tidak jelas yeoja atau namja!” seorang yeoja denga make-up tebal menyindir dua orang di depannya.

“Apa katamu hah..” Sooyoung tampak sangat marah. Ia hendak memukul yeoja yang dandanannya seperti ahjumma itu. beruntung yeoja yang dibelanya segera menenangkannya dan menyeretnya pergi dari tempat itu.

“Sudahlah, ayo kita pergi dari sini!” ujar yeoja itu pada teman yang membelanya.

“Ya benar, kalian lebih baik menyingkir! Mengganggu pemandangan saja!”

Perkataan yeoja tadi membuat kesabaran Sooyoung habis. Ia berbalik dan menampar yeoja itu. yeoja berkacamata  tampak panik dan segera menyeret Sooyoung pergi.

“Kau.. kau berani sekali menamparku..  awas kau!” yeoja itu mengancam, sambil memegang pipinya yang merah. Teman-teman di sekelilingnya menenangkan yeoja itu, mereka tidak berani melawan.

Sooyoung hanya memberikan tatapan menantang pada mereka, sambil pergi menjauh karena dipaksa oleh teman barunya. Mereka berdua pergi menuju bangku yang ada di salah satu pojok bangunan universitas itu.

“Kenapa kau tidak membiarkanku menghajar mereka? Mereka itu perlu diberi pelajaran!” ujar Sooyoung.

“Aishh sudahlah tidak ada gunanya kau bertengkar dengan mereka. Kelakuan mereka memang seperti itu” jawab yeoja berkacamata itu.

Sooyoung menghempaskan badannya ke bangku dengan kesal. Ia benar-benar kesal hari ini. Pihak universitas tidak bisa mengabulkan permintaannya. Keringanan biaya tidak bisa ia dapatkan karena saat ini sedang tidak ada beasiswa yang tersedia, beasiswa universitas biasanya dilakukan saat para murid masih duduk di bangku SMA kelas 3. Sementara permohonannya untuk cuti setahun, mendapatkan cibiran dari pengurus Universitas itu.

“Apa? Cuti katamu? kau bahkan belum resmi diterima disini, mau meminta cuti kuliah? Kau kira ini Universitas milik nenek moyangmu? Kembali saja tahun depan dan ikut tes masuk universitas ini lagi”

Sooyoung benar-benar kesal dan kecewa dengan perkataan ahjussi itu. Yeoja-yeoja tadi itu sedang sial karena membuatnya semakin kesal.

“Gomawo sudah membelaku tadi” ujar yeoja yang duduk di sampingnya.

Sooyoung menoleh dan tersenyum. Yeoja itu juga tersenyum. Sooyoung baru menyadari kalau yeoja itu ternyata juga menggunakan kawat gigi.

“Cheonmaneyo” jawab Sooyoung sambil memperhatika yeoja di depannya. Yeoja menggelung rambutnya ke atas, dan Sooyoung bisa melihat lehernya yang panjang.

“Apa kau mahasiswi disini?”

“Bukan. Aku gagal masuk ke universitas ini” jawab Sooyoung kecewa.

“Oh.. begitu. Oh iya siapa namamu?”

“Sooyoung, Choi Sooyoung”

Yeoja itu beridiri dan menjabat tangan Sooyoung, “Sooyoung-ssi, aku mahasiswa baru disini, perkenalkan namaku Yoona. Im Yoona.”

TBC

ahh mian ya update OOTBnya lama.. nie baru ada waktu ngerjainnya..

mian lagi kalau tidak sesuai yang diharapkan…

komennya jangan lupa ya readers…..

Iklan