Tag

, , , , , , ,

Chapter 2

Cast: Choi Sooyoung, Lee Sunny, Kim Junsu, Park Yoochun, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Jung Yunho, Choi Minho, Krystal Jung, Choi Jinri, Amber………. dan siapa saja yang nanti bisa muncul tiba-tiba hehehe….

Genre: Masih ga tau

Rating: PG-15

Sooyoung memandang buku tabungan yang ada di tangannya. Angka yang tertera disana menunjukkan jumlah uang yang ia miliki saat ini. Ia tidak bisa menolak ketika Nyonya Choi, pemilik rumah yang ia tempati, meminta agar ia membayar sewa kamarnya selama 6 bulan. Selain karena ia punya nama keluarga yang sama dengannya, uang yang dibayarkannya juga adalah untuk dirinya sendiri, karena uang itu akan dipakai untuk membelikan kasur baru dan lemari pakaian untuknya. Sekarang uang yang tersisa hanyalah uang yang sekarang ada di depannya untuk membayar biaya kuliah dan uang yang ada di buku tabungan. Memang jumlah tabungannya masih cukup untuk biaya kuliahnya satu semester kedepan, tapi tidak akan cukup jika harus dipotong biaya makannya sehari-hari. ia harus mencari pekerjaan sambilan disamping kuliah. Bukannya ia menyesal meninggalkan separuh uang tabungannya untuk umma dan adiknya sebelum ia pergi ke Seoul, hanya saja  ia tidak menyangka mencari pekerjaan di Seoul ternyata cukup sulit. Seharian mengelilingi kota itu, ia belum menemukan pekerjaan yang cocok.

“Ternyata hidup di sini tidak semudah yang kukira. Aku harus tetap berusaha! Fighting!”

Sooyoung memasukkan uangnya ke dalam amplop cokelat dan menaruhnya di dalam laci meja belajar, satu-satunya barang yang ada di kamar itu selain kasur. Setelah mengunci kamar ia kemudian berbaring. Keputusan Nyonya Choi mengganti kasur memang sangat tepat. Kasur ini benar-benar sudah tidak layak pakai. Sambil berbaring ia teringat perkataan Kangin dan Hyoyeon sebelum ia pergi.

“Orang itu.. aku akan memberikan pukulan di kepalanya karena meninggalkan kami begitu saja!” Sooyoung mengepalkan tinjunya ke udara.”Lihat saja nanti!”

*

“Apa tidak ada makanan di rumah ini?” ujar Yoochun seraya membuka kulkas dan seluruh lemari di dapur.

“Makanan terakhir adalah yang kita makan saat makan malam barusan” sahut Junsu. Ia sibuk mencoba beberapa lagu baru dengan gitar di tangannya. Lagu itu ditulisnya selama mengikuti wajib militer. Kurang lebih ada 20 lagu yang sempat ia hasilkan. Ia akan menyanyikannya di kafe tempat ia bekerja nanti.

“Kemana Yunho dan Changmin? Dari tadi aku tidak melihat mereka”

“Jelas kau tidak melihat mereka. Kau kan baru bangun tidur. Yunho sedang keluar, entah apa yang dilakukannya dari tadi siang belum pulang. Changmin baru saja pergi membeli makanan”

“Changmin membeli makanan? Untunglah, aku akan menunggunya pulang”

“Aku tidak yakin dia ingat membawakan makanan untukmu”

“Apa? Kalau begitu aku akan menelponnya” Yoochun segera menekan nomer Changmin di hpnya. Tapi ternyata namja itu meninggalkan hpnya di atas meja makan.

“Arggh sialan!” Yoochun mengomel.”Jaejoong kapan kau akan pulang!”

Junsu tidak memperdulikan Yoochun yang marah-marah sendiri. Jaejoong, ia tidak memberi tahu kapan akan kembali ke rumah. Biasanya ia yang mengatur persediaan makanan di rumah itu dan kadang memasak untuk mereka. Katanya ia harus pulang ke rumahnya di Busan lebih dahulu untuk mengurus toko musiknya yang akhir-akhir ini penjualannya menurun. Entah apa yang akan dilakukannya disana, mungkin membagikan foto gratis pada pembeli atau berdiri di depan toko sambil bergaya seperti model dan menarik perhatian yeoja disana atau mungkin bonus memeluk dirinya jika membeli dua album atau lebih. Yah, sepertinya akan berhasil menaikkan penjualan tokonya, pikir Junsu.

“Kalau kau lapar, telepon pesan antar saja” ujar Junsu pada Yoochun yang masih sibuk membuka-tutup kulkas padahal sudah tahu kalau tidak ada makanan disana.

“Bosan”

“Pulang saja ke rumahmu kalau begitu!”

“Tidak akan! Labih baik aku kelaparan daripada pulang ke rumah!” Jawab Yoochun.

 Wajar saja ia tidak mau pulang, karena jika ia ke sana, kemungkinan selama seminggu ke depan ia tidak akan bisa kemana-mana, karena keluarganya akan memaksanya menghadiri acara dengan perusahaan ini, makan malam dengan perusahaan itu, pergi ke lokasi industri di sini dan disana. Lalu kenapa sampai sekarang keluarganya tidak mengganggu Yoochun? Itu karena perjanjian di antara mereka. Yoochun mau mengikuti kemauan orang tuanya masuk jurusan bisnis, dengan syarat ia tidak mau diganggu selama masa kuliah. Orang tuanya menyetujui, mereka membiayai kuliahnya dan bahkan membelikannya rumah yang mereka tempati sekarang. Terkadang menjadi kaya tidak ada ruginya (memang….lho?).

“Ya sudah kalau begitu jangan ganggu aku” Junsu kembali fokus menyanyikan lagu barunya. Na na na….

“Junsu, besok kita harus menjalankan misi kita yang tertunda. Oke?” Yoochun mendekati Junsu sambil melihat-lihat lagu yang di buat namja itu.

“Misi kita? Itu misimu sendiri tahu!” Junsu menjawab dengan ketus. Ia menjauhkan semua kertas-kertasnya dari  tangan Yoochun.

“Jangan begitu, ayolah.. aku akan mentraktirmu makan dimana saja. Bagaimana?”

“Cuma makan? Aku bisa membelinya dengan uangku sendiri. Tidak, aku tidak mau. Kau kerjakan saja sendiri” tolak Junsu.

“Ayolah.. kau tidak kasian padaku? Dua tahun selama wamil aku tidak mempunyai pacar. Aku perlu data-data mahasiswi baru itu…” bujuk Yoochun.

Junsu tidak bergeming. Dua tahun tidak punya pacar? Lalu siapa yeoja-yeoja yang hampir tiap minggu mendatangi Yoochun, sampai-sampai mereka kena hukuman karena sebagian yeoja itu memaksa masuk ke dalam camp latihan.

“Aku tidak mau” Junsu tetap pada pendiriannya.

Yoochun masih belum mau menyerah. Ia memutar otak mencari cara agar Junsu mau menemaninya. Alasan kenapa Junsu harus ikut adalah; pertama, memastikan keadaan aman saat ia mengambil data itu dan kedua, kalau ketahuan akan mengatakan Junsu yang menginginkan data itu. ia tahu yeoja yang bekerja disana adalah penggemar rahasia Junsu, jadi ia bisa memanfaatkannya. (Dasar evil Yoochun!). Memberinya uang tidak akan berhasil, malah kemungkinan besar Junsu akan marah padanya. Bagaimana sebaiknya?

“Bagaimana kalau aku, Park Yoochun, akan mengabulkan satu permintaanmu. Apa saja, walau yang paling aneh dan tidak biasa sekalipun!”

Junsu termenung mendengar perkataan Yoochun. Penawaran yang menarik. Sepertinya suatu saat ia akan membutuhkannya.

Yoochun memperhatikan Junsu. ‘Yes, berhasil!’

“Aku setuju!” ujar Junsu. “Tapi ingat, pegang janjimu!”

“Tentu saja! Gomapta Junsu yah! High Five!”

*

Setelah pulang dari salah satu restoran favoritnya, Changmin yang kekenyangan berjalan sendiri. Sekarang sudah lewat tengah malam. Kebiasaan makan di tengah malamnya masih saja ada, walaupun selama dua tahun ia mengikuti wamil. Tentu saja karena ia dan Yoochun selalu menyelundupkan makanan untuk dimakan saat tengah malam. Karena Jaejoong belum pulang juga, tidak ada yang memasak di rumah. Junsu tidak tahu memasak, dia hanya expert dalam menyanyi, Yoochun.. jangan mengaharapkan dia, kecuali kalau kau ingin meminta tips n trik 10 detik menarik perhatian yeoja. Yunho hyung, ia bisa memasak tapi lebih menyukai olahraga dan membentuk badannya yang memang bagus itu………………………………………………

Changmin menampar pipinya sendiri karena baru saja berpikir yang aneh-aneh. Sepertinya ia terlalu banyak melihat Yunho yang sering topless di rumah. Atau ia mungkinterlalu terpengaruh oleh Jaejoong karena selama pelatihan wamil ia satu kelompok bahkan satu kamar dengan namja berwajah ( yang kata sebagian besar orang) cantik itu.

“Aku senang disini, tidak ada yeoja yang mengikuti kita kemana-mana”

Changmin teringat perkataan Jaejoong saat wamil. Dasar, namja aneh! Tentu saja tidak ada yeoja disana. Kecuali kalau ia memang senang berada di sana, karena banyak namja lain yang sepertinya suka mengobrol dengannya…………………………………..

Changmin menampar pipinya lagi. Kali ini lebih keras dari yang pertama.

“Ugh.. sebaiknya aku jalan-jalan lagi sebelum pulang ke rumah” Changmin berkata pada dirinya sendiri.

Ia mengarahkan kakinya hendak berbelok ke sebuah tikungan jalan, ketika tiba-tiba matanya menangkap cahaya berwarna kemerahan di salah satu sudut jalan. Ia mengurungkan niatnya untuk berbelok dan segera berlari ke sumber cahaya yang ternyata bersumber dari sebuah rumah yang terbakar.

*

Yunho mengucapkan selamat tinggal pada beberapa orang temannya karena mereka berbelok ke arah yang berlawanan. Ia memacu motornya dengan kecepatan sedang. Beberapa tahun tidak bertemu dengan teman satu tim sepakbolanya, mereka menghabiskan waktu hampir seharian untuk mengobrol dan bermain sepakbola.

Malam itu cukup sepi, namun kesepian itu tidak bertahan lama, ketika bunyi sirene pemadam kebakaran melintas di samping Yunho. Penasaran dimana kebakaran terjadi, Yunho mengikuti arah mobil pemadam itu.

Setelah beberapa lama akhrinya ia sampai di sebuah lokasi yang cukup padat dengan rumah penduduk. Ia melihat sebuah rumah yang terbakar dan banyak orang yang berkerumun. Sebagian panik mengeluarkan barang-barang berharga mereka. Petugas kebakaran segera menyemprotkan air ke rumah yang terbakar itu. Yunho mengamati pemandangan di depannya, jarang sekali ia melihat peristiwa kebakan (itu artinya bagus, ya kan?). Tiba-tiba ia melihat seorang yeoja yang menangis dengan keras. Sementara seorang ahjussi yang tampaknya adalah ayahnya memegang kedua tangan yeoja itu. Ahjumma yang ada di sampingnya juga tampak cemas.

“Sooyoung unnie.. Sooyoung unnie masih di dalam rumah!”  teriak yeoja itu.

*

Keringat tampak membasahi wajah Sooyoung yang masih tertidur. Ia menggeliat dan bergumam pelan,

“Uhh kenapa panas sekali di sini….”

Sooyoung membuka matanya. Ia terlonjak kaget dan segera berdiri. Ia mendapati dirinya sudah dikelilingi api. Korden jendela, dinding sebagian sudah terbakar sehingga ia bisa melihat ke ruang sebelah yang juga sudah menyala merah karena api yang berkobar dengan besarnya.

Sooyoung panik. Ia segera menyambar tasnya dan segera memakainya. Ia berusaha memasukkan semua barang yang masih belum terbakar ke dalam koper. Ia hendak menuju pintu kamar tapi sial, pintu itu sudah mulai terbakar. Ia menendangnya sekuat tenaga. Akhirnya pintu itu terbuka, segera saja ia disambut hawa panas dari api yang membakar hampir semua bagian rumah. Asap membuat pandangannya kabur dan napasnya sesak, ia masih berusaha mencari pintu keluar. Ia masih bisa melihat pintu depan rumah, tapi kemudian ia teringat sesuatu. Uangnya! Uang kuliahnya masih ada di dalam laci!

Sooyoung segera kembali ke kamarnya. Dengan susah payah akhirnya ia bisa mencapai meja belajar itu. asap semakin tebal, ia menutup hidung dan mulutnya dengan tangan sambil tetap berusaha membuka laci belajar yang juga sudah mulai terbakar. Laci itu terkunci.

“Aishh dimana kuncinya!”

Sooyoung yang panik berusaha berpikir keras, dimana ia meletakkan kunci laci itu. ia mencari ke sudut-sudut ruangan. Napasnya benar-benar sesak karena sudah terlalu lama menghirup asap. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia melihat kunci yang dicarinya ternyata ada di balik kasur. Ia berhasil mengambilnya, tapi kesadarannya sudah mulai menurun. Ia bergerak munuju laci tersebut dan membukanya. Sayang, sebelum ia sempat mengambil uang tersebut ia lebih dulu kehilangan kesadarannya. Ia jatuh di lantai, sementara api mulai menjalar kemana-mana.

Beberapa saat pingsan, Sooyoung akhirnya membuka matanya, semua yang ia lihat adalah api. Ia bahkan merasa api dekat sekali dengan wajahnya. Badannya terlalu lemah untuk bangun, tapi dengan sedikit kesadaran yang tersisa, ia merasa seseorang datang, dan mengangkat tubuhnya.

Seorang namja, ia kira. Karena ia merasa bersandar di dada bidang seseorang. ia mendongakkan wajahnya dan hal terakhir yang ia lihat adalah sebuah garis rahang yang tegas dari seorang namja yang sedang menggendongnya.

*

Api sudah berhasil dipadamkan, untung saja tidak menjalar ke rumah-rumah lainnya. Terima kasih untuk pemadam kebakaran yang bergerak dengan cepat.

Changmin mengusap keringat di wajahnya, sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Ini adalah pengalaman pertamanya membantu memadamkan kebakaran. Ia mulai berpikir kalau ia berbakat menjadi pemadam kebakaran. Ia mengedarkan pandangan mencari tempat untuk duduk, ketika tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah motor yang sepertinya ia kenal.

‘Mirip motor Yunho hyung’ pikirnya sambil memperhatikan motor sport berwarna merah dan hitam itu.

Ia menghampiri motor itu dan dikejutkan dengan kehadiran seorang namja di hadapannya.

“Changmin? Apa yang kau lakukan disini?”

“Hyung? Ternyata benar ini motormu. Aku tadi membantu memadamkan kebakaran” jawab Changmin. Ia memperhatikan pakaian dan wajah hyungnya. Tampak sama seperti dirinya, hyungnya itu tampak berkeringat dan kelelahan.”Apa kau tadi juga ada disana?” Tanya Changmin.

“Ya, sama sepertimu, aku juga membantu korban kebakaran itu” Yunho naik ke motornya dan memasang helm. “Perlu tumpangan?”

Tanpa dikomando, Changmin segera melompat naik ke motor Yunho.

*

Jiinri tampak cemas menunggui Sooyoung yang masih belum sadar juga sejak satu jam yang lalu. Petugas medis sudah memasangkan selang oksigen ke hidungnya.

“Jika, ia belum bangun juga, maka kami akan membawanya ke rumah sakit” ujar salah seorang petugas medis di mobil itu.

“Ne, algeseumnida” Jinri hanya mengangguk lemah. ia memandang yeoja yang masih terbaring itu, sementara masih menggenggam tangannya. Tiba-tiba ia merasa ada pergerakan di tangan Sooyoung, dan matanya perlahan mulai terbuka.

Jinri tersenyum senang, “Oh Tuhan terima kasih…” ujarnya sambil memeluk Sooyoung.

“Jinri-yah.. aku ada dimana?” Sooyoung bertanya dengan suara hampir tidak terdengar.

“Unnie, rumah kita terbakar. Unnie pingsan, untung saja sekarang unnie sudah sadar” Jiinri berkata sambil menangis.

Sooyoung hanya bisa pasrah mendengar perkataan yeoja itu. Ternyata kebakaran itu benar terjadi, sesaat ia mengira itu hanyalah mimpi. Namun wajah sedih Jinri di depannya memastikan bahwa itu adalah kenyataan. Ia bersyukur, Tuhan masih menyelamatkan nyawanya dengan mengirim seseorang. Seorang namja, entah siapa orang itu, tapi Sooyoung berjanji ia akan membalas jasa orang itu jika bertemu dengannya suatu saat nanti…….

***CNP***

Hallo reader tersayang dan silent reader yang juga author sayang hehehe..

new chapter OOTB.. Gimana? gimana?

buat yang nungguin updatenya MB sabar dulu ya.. author masih mencari inspirasi…. a kiss…. how ’bout it? hahaha…

Komen yah…. makasih dah baca….^^

Iklan