Tag

,

First oneshot!
Maaf ya kalau jelek…
Oh iya, karena author orangnya suka bingungan, jadi untuk namja di FF ini author ga bisa menentukan…. siapakah namja Sooyoung yang pertama terpikirkan oleh reader saat membaca FF ini?

Februari (Oneshot)

Sinar matahari pagi memasuki kamar dari celah-celah jendela yang tertutup korden dan menciptakan bayangan-bayangan di dinding kamar yang berwarna putih. Sooyoung membuka mata dan meregangkan badannya sejenak di tempat tidur sebelum kemudian bangun dan duduk di salah satu sisi tempat tidurnya. Ia melihat ke meja, jamnya menunjukkan pukul 7 pagi. Sejenak ia melihat ke kalender yang ada di samping jam tersebut. Ia tersenyum saat melihat tulisan yang ada di kalender itu. Tanggal 1 bulan Februari.

Sooyoung berjalan ke arah jendela. Ia membuka korden dan terpampanglah pemandangan kota Seoul pada pagi hari. Ia kemudian membuka jendela yang sekaligus merupakan pintu menuju balkon kamarnya. Dari apartemennya di tingkat 24 ini, kota Seoul terlihat sangat indah. Itu merupakan salah satu hal yang membuat Sooyoung sangat bahagia tinggal di apartemen itu. Ya, hanya salah satu, karena ia punya banyak alasan lain yang membuatnya tidak akan pernah menyesal tinggal disana.

Sooyoung menarik napas dalam dan memejamkan matanya, menikmati udara pagi dan sinar matahari yang menerpa wajahnya. Matahari pertama di bulan Februari, walau sedikit dingin saat itu, tapi ia sangat menikmatinya.Februari akan selalu menjadi bulan yang sangat dinantikannya. Selain karena itu adalah bulan saat ia dilahirkan, Februari juga adalah bulan yang menyimpan banyak peristiwa dan kenangan indah baginya. Salah satu peristiwa yang sangat berharga untuknya, tepat setahun yang lalu di bulan yang sama.

“Sekarang sudah bulan Februari Youngie”
Seorang namja, berkata pada Sooyoung yang sedang memandangi langit malam. Setelah makan malam, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman.
“Ne” Jawab Sooyoung singkat.
Melihat tidak ada perubahan di wajah Sooyoung, namja itu kembali berkata,
“Kau tidak senang?”
“Aku senang oppa, sangat senang sampai aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu” Sooyoung akhirnya menyingkirkan pandangannya dari bintang-bintang diatas langit dan memandang namja disampingnya dengan tersenyum.
“Sebentar lagi hari ulang tahunmu, apa yang kau inginkan sekarang?” namja itu meraih tangan Sooyoung dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
“Oppa, hari ulang tahunmu juga sebentar lagi kan?”
“kau belum menjawab pertanyaan tadi, apa yang kau inginkan, jagiya?”
“Tidak ada, aku sudah punya semua yang kuinginkan” Sooyoung menyandarkan kepalanya ke bahu namja itu.
“Benarkah?”
Sooyoung mengangguk.
“Oppa, kapan kita akan merayakannya, ulang tahunmu atau ulang tahunku?” tanya Sooyoung.
Sejak mereka berdua sudah bersama sejak dua tahun yang lalu, mereka memang memiliki kebiasaan merayakan ulang tahun bersama karena kebetulan mereka lahir pada bulan Februari.
“Ulang tahunmu saja”
“Wae, oppa?”
“Karena aku sudah mempunyai hadiah yang untukmu”
“Oppa, sudah kukatakan aku tidak perlu hadiah darimu”
“Aku sudah menyiapkannya Youngie, kau harus menerimanya”
*

“Choi Sooyoung menikahlah denganku!” Namja itu berlutut di hadapannya.
Sooyoung terdiam, ia sangat terkejut dengan apa yang baru didengarnya.
“Ini adalah hadiah dariku untuk ulang tahunmu” Namja itu kemudian memakaikan cincin di jari Sooyoung.
Sooyoung tidak bisa berkata apa-apa, air matanya mengalir, tapi sebuah senyum menghiasi bibirnya.
Hari ulang tahunnya saat itu tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

“Jagiya, kau sudah bangun?”
Sooyoung tersadar dari lamunannya, saat sepasang lengan yang kuat memeluknya dari belakang. Ia bisa mencium bau harum dari badan namja itu. Harum khas dari suaminya setelah mandi.
“Belum” jawab Sooyoung.
“Belum?” namja itu sedikit heran, tapi ia menyambung,
“Oh baiklah, aku akan membangunkanmu” Ia kemudian mencium pipi Sooyoung.
Yeoja itu tertawa kecil.
“Bagaimana? Kau sudah bangun sekarang?”
“Ne, oppa. Gomawo sudah membangunkanku” jawab Sooyoung.
“Sekarang sudah bulan Februari” ujar namja itu sambil masih memeluk Sooyoung. Matanya memandang ke arah kota Seoul yang ada di hadapan mereka.
“Aku tahu, oppa yang sudah mengganti kalender itu kan?” jawab Sooyoung. Tentu saja suaminya yang sudah menggantinya.
“Kau sudah tahu ternyata”
“Memang disini ada siapa lagi selain oppa? Kan tidak mungkin tetangga kita yang menggantinya?”
Namja itu tertawa, ia mencubit pipi Sooyoung dengan gemas.
“Aww, oppa hentikan! Sakit tau!” Sooyoung memukul lengan namja itu sambil mengelus pipinya yang sakit. Ia cemberut.
“Hei jangan cemberut begitu, kau tahu kan kalau pipimu itu sangat menggemaskan” ujar namja itu sambil mengelus pipi sooyoung yang tadi dicubitnya.
Sooyoung tersenyum.
“Oppa, sebentar lagi ulang tahunmu, hadiah apa yang kau inginkan?” Sooyoung mengulang perkataaan namja itu setahun yang lalu.
“Aniyo, aku tidak perlu apa-apa lagi. Aku sudah memilikimu Sooyoungie” Namja itu memegang wajah Sooyoung dengan kedua tangannya.
“Benarkah?”
“Tentu” Namja itu mencium kening istrinya, “Tapi kalau kau ingin merayakannya tidak apa-apa”
“Bagaimana kalau kita merayakannya sekarang?” Sooyoung bertanya pada suaminya.
“Sekarang? Ini kan baru tanggal 1 jagiya?” namja itu tampak heran.
“Iya, sekarang” Sooyoung mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena aku sudah memiliki hadiah untukmu oppa?”
Suaminya memandang Sooyoung dengan bingung. Ia tidak mengerti apa maksud istrinya itu.
Sooyoung melihat wajah namja di hadapannya yang tampak bingung. Ia kemudian meraih tangan suaminya dan meletakkannya di perutnya.
“Oppa,keluarga kita akan bertambah” Ujarnya sambil tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Mendengar apa yang dikatakan istrinya, wajah namja itu langsung berubah,
“Jeongmal? Maksudmu aku akan jadi seorang ayah?” namja itu tampak sangat kaget sekaligus senang.
Sooyoung mengangguk.
Namja itu spontan memeluk Sooyoung sambil berputar-putar karena bahagianya.
“Oppa, hentikan! Kau membuat kepalaku pusing” ujar Sooyoung.
Namja itu melepaskan perlukannya.Ia kemudian mendekatkan telinganya ke perut Sooyoung.
“Hey, little baby apa yang sedang kau lakukan didalam sana?” ia bertanya.
“Ia baru berusia 3 minggu. Mana mungkin kau bisa mendengarnya!” Sooyoung tertawa.
“Oh ya? Tapi sepertinya aku mendengar sesuatu” ujarnya, “Sepertinya seseorang sedang lapar”
“Oppa!” Sooyoung memukul namja itu.
Namja itu kemudian berdiri. Ia memeluk Sooyoung.
“Gomawo, Youngie. Kau sudah memberikanku hadiah yang sangat berharga”
“Anieyo, oppa, aku juga sangat senang dengan pemberian Tuhan ini. Tapi ia tidak akan lahir pada bulan Februari seperti kita. Ia kemungkinan akan lahir bulan Nopember” Sooyoung mendongakkan kepalanya. Ia memandang wajah Suaminya.
“Jinjja? Gwenchanha..” Jawab namja itu. ia diam sebentar lalu menyambung,
“Kita masih bisa merayakan di bulan Februari…..”
Sooyoung bingung mendengar jawaban suaminya.
“Untuk anak kita yang ke dua!”
“Yah! Oppa!”

Namja itu tertawa. Ia memeluk Sooyoung yang wajahnya tampak memerah. Sooyoung sendiri tidak akan pernah melupakan hari ini, salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupnya, selain hari pernikahan mereka tentunya. Dan yang paling membuatnya senang adalah ia bisa melewati hari-hari bersama namja yang dicintainya. Ia berharap masih bisa terus menikmati bulan Februari lainnya bersama namja itu, merayakan hari ulang tahun mereka dan menantikan hadiah lainnya dari Tuhan untuk hidup mereka…

******END******

Huaaaaaa!!!! Gagal! Gagal! Jelek ya? Mianhe kalau jelek Ya! Namanya juga baru belajar bikin ff… T_T
Terimaksih buat yang bersedia membaca…
Jadi menurut kalian siapa namjanya? Karena lahirnya bulan Februari sama dengan Sooyoung maka author maka hanya ada beberapa kandidat rasanya (Jiah kaya presiden aje).. Changmin, Yunho, Kyuhyun, Jaejoong (?), Siwon(?)….
Kalau buat author waktu buat ff-nya, rasanya yang paling cocok adalah…
YUNHO!*blushes

Hahahaha… habis Yunho emang hot eh maksudnya handsome! Calon Suami ideal banget! XD Bener-bener dah….

Iklan